Jumaat, 12 Jun 2020

Syarah Riyadhus Shalihin Bab 73. Berakhlak Baik.

Allah ﷻ berfirman:
۞وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ۞
“Dan sesungguhnya engkau benar-benar, berbudi pekerti yang luhur.”
(QS. Al-Qalam: 68: 4)

Allah ﷻ berfirman:
۞وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ۞
“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain.” (QS. Âli 'Imrân: 3: 134)

Hadits 619.
وَعَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْسَنَ النَّاسِ خُلُقًا. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.
Daripada Anas radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling baik akhlaknya.”

[Shahih Al-Bukhari no. 6203 dan Muslim no. 2150]

Hadits 620.
وَعَنْهُ قَالَ: مَا مَسِسْتُ دِيْبَاجًا وَلَا حَرِيْرًا أَلْيَنَ مِنْ كَفِّ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَلَا شَمِمْتُ رَائِحَةً قَطُّ أَطْيَبَ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَلَقَدْ خَدَمْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ سِنِيْنَ، فَمَا قَالَ لِي قَطُّ: أُفٍّ، وَلَا قَالَ لِشَيْءٍ فَعَلْتُهُ: لِمَ فَعَلْتَهُ؟ وَلَا لِشَيْءٍ لَمْ اِفْعَلْهُ: أَلَا فَعَلْتَ كَذَا؟ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.
Daripada (Anas radhiyallahu anhu), dia berkata, “Belum pernah aku menyentuh sutra yang tebal atau nipis yang lebih halus dari kedua tangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan aku belum pernah mencium wewangian yang lebih harum dari wangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sungguh aku pernah menjadi pembantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selama sepuluh tahun, namun belum pernah sekalipun baginda mengatakan, 'uf (kata-kata kotor) kepadaku, tidak pernah mengatakan terhadap apa yang aku kerjakan, “Mengapa kamu melakukan ini?” dan tidak pula mengatakan terhadap sesuatu yang tidak aku kerjakan, “Kenapa kamu tidak kerjakan itu?”

[Shahih Al-Bukhari no. 3561 dan Muslim no. 2230]

Hadits 621.
وَعَنِ الصَّعْبِ بْنِ جَثَّامَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: أَهْدَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِمَارًا وَحْشِيًّا، فَرَدُّهُ عَلَيَّ، فَلَمَّا رَأَى مَا فِي وَجْهِي قَالَ: « إِنَّا لَمْ نَرُدَّهُ عَلَيْكَ إِلاَّ لأَنَّا حُرُمٌ » مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.
Daripada Ash-Sha'ab bin Jatsamah radhiyallahu anhu, dia berkata, “Aku pernah memberi hadiah keledai liar kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menolaknya. Tatkala Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melihat apa yang terjadi pada wajahku, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Kami tidak menolak pemberianmu melainkan kerana kami sedang ihram.”

[Shahih Al-Bukhari no. 1825 dan Muslim no. 1193]

Hadits 622.
وَعَنِ النَّوَّاسِ بْنِ سَمْعَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ اْلبِرِّ وَاْلإِثْمِ فَقَالَ: « اْلبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ، وَاْلإِثْمُ: مَا حَاكَ فِي نَفْسِكَ، وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلعَ عَلَيْهِ النَّاسُ » رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
Daripada An-Nawas bin Sim'an radhiyallahu anhu, dia berkata, “Aku pernah menanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan dan dosa, kemudian Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam menjawab,

“Al-Birr (bakti) adalah akhlak yang baik, sedangkan dosa adalah segala sesuatu yang meragukan hati dan kamu benci jika hal itu diketahui orang lain.”

[Shahih Muslim no. 2535]

Hadits 623.
وَعَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ اْلعَاصِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: لَمْ يَكُنْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاحِشًا وَلَا مُتَفَحِّشًا. وَكَانَ يَقُوْلُ: « إِنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحْسَنَكُمْ أَخْلَاقًا » مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.
Daripada Abdullah bin Amr bin Al-'Ash radhiyallahu anhu dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berbuat kejahatan. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pun pernah bersabda, “Sesungguhnya orang-orang yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya.”

[Shahih Al-Bukhari no. 3559, 6035 dan Muslim no. 2321]

Hadits 624.
وَعَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: « مَا مِنْ شَيْءٍ أَثْقَلُ فِي مِيْزَانِ الْمُؤْمِنِ يَومَ اْلقِيَامَةِ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ. وَإِنَّ اللهَ يُبْغِضُ اْلفَاحِشَ اْلبَذِيِّ » رَوَاهُ التَّرْمِذِيُّ وَقَالَ: حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ. (اْلبَذِ يُّ): هُوَ الَّذِي يَتَكَلَّمُ بِالْفُحْشِ. وَرَدِيْءِ الْكَلَامِ.
Daripada Abu Ad-Darda' radhiyallahu anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin pada hari kiamat daripada akhlak yang baik. Dan Allah membenci orang yang keji, baik perkataan mahupun perbuatan.”

[HR. At-Tirmidzi no. 5721 dinilai Shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 876 dan Shahih At-Tirmidzi no. 1628]

Hadits 625.
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سُئِلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ؟ قَالَ: « تَقْوَى اللهِ وَحُسْنُ الْخُلُق، وَسُئِلَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ فَقَالَ: « الْفَمُ وَالْفَرْجُ » . رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَقَالَ: حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ.
Daripada Abu Hurairah radhiyallahu anhu dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang sesuatu yang paling banyak memasukkan orang ke surga.”

Baginda shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Takwa kepada Allah dan berakhlak yang baik.”

Dan ketika ditanya tentang sesuatu yang paling banyak memasukkan orang ke neraka.

Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam menjawab, “Mulut dan kemaluan.”

[HR. At-Tirmidzi no. 2004 dinilai Shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Shahihah no. 977 dan Shahih Ibnu Majah no. 3424]

Hadits 626.
وَعَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: « أَكْمَلُ الْمُؤمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا، وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهمْ » . رَوَاهُ التِّرمِذِيُّ وَقَالَ: حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ.
Daripada Abu Hurairah radhiyallahu anhu dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Orang mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan yang terbaik dari kalian adalah yang baik kepada istrinya.”

[HR. At-Tirmidzi no. 1162 dinilai Shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Jami Ash-Shaghir no. 1232]

Hadits 627.
وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا، قَالَتْ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: « إِنَّ الُمُؤْمِنَ لَيُدْرِكُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَةَ الصَّائِمِ القَائِمِ » رَوَاهُ أَبُوْ دَاوُدَ. 
Daripada Aisyah radhiyallahu 'anha dia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya orang mukmin dengan budi pekerti yang baik dapat mengejar derajat orang yang selalu berpuasa dan shalat malam (qiyamullail).”

[HR. Abu Dawud no. 4798 dinilai Shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abu Dāwud no. 4013]

Hadits 628.
وَعَنْ أَبِي أُمَامَةَ اْلبَاهِليِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: « أَنَا زَعِيْمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ. وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا، وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ، وَإِنْ كَانَ مَازِحًا، وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسُنَ خُلُقُهُ » حَدِيْثٌ صَحِيْحٌ، رَوَاهُ أَبُوْ دَاوُد بإِسْنَادٍ صَحِيْحٍ.
Daripada Abu Umamah Al-Bahili radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Aku menjamin untuk memberikan suatu rumah di kebun surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan walaupun dia benar, dan suatu rumah di tengah-tengah surga bagi orang yang tidak berdusta walaupun sedang bercanda (gurauan) dan menjamin satu rumah di bagian tertinggi dari surga bagi orang yang baik akhlaknya.”

[HR. Abu Dawud no. 4800 dinilai Shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abu Dawud no. 4015 dan Silsilah Ash-Shahihah no. 273]

Hadits 629.
وَعَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: « إِِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِليَّ، وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ، أَحَاسِنَكُمْ أَخلَاقًا. وَإِنَّ أَبَغَضَكُمْ إِليَّ وَأَبْعَدَكُمْ مِنِّي يَوْمَ الْقِيَامَةِ، الثَّرْثَارُوْنَ وَالْمُتَشَدِّقُوْنَ وَالْمُتَفَيْهِقُوْنَ » قَالُوْا: يَارَسُوْلَ اللهِ قَدْ عَلِمْنَا الثَرْثَارُوْنَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ، فَمَا الْمُتَفيْهِقُوْنَ؟ قَالَ: « الْمُتَكَبِّروُنَ » رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَقَالَ: حَدِيْثٌ حَسَنٌ.
Daripada Jabir radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya yang paling aku cintai dan yang paling dekat denganku tempat duduknya pada hari Kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya. Dan di antara kalian yang paling aku benci dan paling aku jauh posisi duduknya dariku pada hari Kiamat adalah orang yang banyak bicara, sombong dengan perkataannya dan memenuhi mulutnya dengan kata-kata sombong.”

Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, kami telah mengetahui makna ats-tsartsarun dan al-mutasyaddiqun, lalu apa yang dimaksud makna al-mutafaihiqun?

Baginda shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Orang-orang yang sombong.”

[HR. At-Tirmidzi no. 2018 dinilai Shahih oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 791]

Makna hadits:

- Tsartsar adalah orang yang banyak bicara hanya untuk gaya.

- Mutasyaddiqun adalah orang yang mencibir orang lain dengan ucapan dan kata-katanya agar terlihat fasih dan orang ini mengagumi ucapannya sendiri.

- Mutafaihiqun adalah orang yang banyak bicara dan mengada-ada agar terlihat beda, kerana merasa sombong, tinggi hati dan menunjukkan kelebihannya atas orang lain.

Imam At-Tirmidzi meriwayatkan dari Abdullah bin Al-Mubarak berkenaan dengan tafsir dari kata husnul khulq yakni wajah yang berseri-seri, suka memberi kebaikan, dan menahan diri dari tindakan yang dapat menyakitkan orang lain.

Sabtu, 9 Mei 2020

Syarah Riyadhus Shalihin Bab 72. Haramnya Sikap Sombong Dan Ujub (Membanggakan Diri)

Allah ﷻ berfirman:
۞تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا ۚ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ۞
“Negeri akhirat itu Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan tidak berbuat kerusakan di bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu bagi orang-orang yang bertakwa.” 
(QS. Al-Qashash: 28: 83)

Allah ﷻ berfirman:
۞وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ۞
“Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong.” (QS. Al-Isrâ: 17: 37)

Allah ﷻ berfirman:
۞وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ۞
“Dan janganlah kamu memaling wajah manusia (kerana sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS. Luqmân: 31: 18)

Makna, “Janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia” yakni jangan kamu buang muka di hadapan mereka kerana perasaan sombong terhadap mereka.

Allah ﷻ berfirman:
۞وَآتَيْنَاهُ مِنَ الْكُنُوزِ مَا إِنَّ مَفَاتِحَهُ لَتَنُوءُ بِالْعُصْبَةِ أُولِي الْقُوَّةِ إِذْ قَالَ لَهُ قَوْمُهُ لَا تَفْرَحْ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِينَ۞
“Dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaraan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya, “Janganlah engkau terlalu bangga. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang membanggakan diri.”
(QS. Al-Qashash: 28: 81)

Allah ﷻ berfirman:
۞فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ۞
“Maka Kami benamkan dia (Qarun) bersama rumahnya ke dalam bumi.” 
(QS. Al-Qashash: 28: 81)

Hadits 610.
وَعَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: « لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مَنْ كِبْرٍ » فَقَالَ رَجُلٌ: إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُوْنَ ثَوْبُه حَسَنًا، وَنَعْلُهُ حَسَنًا قَالَ: « إِنَّ اللهَ جَمِيْلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ اْلكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ » رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
Daripada Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, baginda bersabda:

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” 

Seseorang bertanya, “Sesungguhnya ada seorang lelaki yang senang kalau bajunya bagus dan sandalnya bagus (apakah ini termasuk kesombongan)?”

Baginda menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Kesombongan itu menolak kebenaran dan merendahkan manusia.”

[Shahih Muslim no. 91]

Hadits 611.
وَعَنْ سَلَمَةَ بْنِ اْلأَكْوَعِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا أَكَل عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِشِمَالِهِ فَقَالَ: « كُلْ بِيَمِينِكَ » قَالَ: لَا أَسْتَطِيْعُ، قَالَ: « لَا اسْتَطَعْتَ » مَا مَنَعَهُ إِلاَّ اْلكِبْرُ. قَالَ: فَمَا رَفَعَهَا إِلَى فِيْهِ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
Daripada Salamah bin Al-Akwa radhiyallahu anhu, bahwasanya ada seorang lelaki makan di dekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tangan kiri, maka baginda menegurnya: “Makanlah dengan tangan kanan.”

Lelaki itu menjawab: “Aku tidak boleh makan dengan tangan kanan.”

Baginda bersabda lagi: “Kamu tidak boleh makan dengan tangan kanan kerana kesombonganmu.”

Salamah berkata: “Kemudian lelaki itu tidak boleh mengangkat tangannya ke mulut.”

[Shahih Muslim no. 2021]

Hadits 612.
وَعَنْ حَارِثَةَ بْنِ وَهْبٍ رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: « أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ النَّارِ ؟: كُلُّ عُتُلٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ » مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَتَقَدَّمَ شَرْحُهُ فِي بَابِ ضَعْفَةِ الْمُسْلِمِيْنَ.
Daripada Haritsah bin Wahb radhiyallahu anhu, dia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Mahukah kamu aku beritahukan tentang penghuni neraka?” Mereka adalah orang yang kaku dan kasar, berakhlak sangat buruk dan sombong.”

[Shahih Al-Bukhari no. 4918 dan Muslim no. 2853]

Telah dijelaskan pada “Bab Keutamaan Orang-orang Lemah.”

Hadits 613.
وَعَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: « احْتَجَّتِ الْجَنَّةُ وَالنَّارُ، فَقَالَتِ النَّارُ: فِيَّ الْجَبَّارُوْنَ وَالْمُتَكَبِّرُوْنَ، وَقَالَتِ الْجَنَّةُ: فِيَّ ضُعَفَاءُ النَّاسِ وَمَسَاكِينُهُمْ. فَقَضَى اللهُ بَيْنَهُمَا: إِنَّكِ الْجَنَّةُ رَحْمَتِي، أَرْحَمُ بِكِ مَنْ أَشَاءُ وإِنَّكِ النَّارُ عَذَابِي، أُعَذِّبُ بِكِ مَنْ أَشَاءُ، وَلِكِلَيْكُمَا عَلَيَّ مِلْؤُهَا » رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
Daripada Abu Said Al-Khudri radhiyallahu anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, baginda bersabda:

“Surga dan neraka pernah berdebat, berkatalah neraka: “Penghuniku adalah orang-orang yang bongkak dan sombong.”

Surga berkata: “Penghuniku adalah orang-orang yang lemah dan orang-orang yang miskin.”

Lalu Allah memberi keputusan kepada keduanya seraya berfirman: “Sesungguhnya engkau, wahai surga adalah rahmat-Ku, denganmu aku memberi rahmat kepada siapa saja yang Aku kehendaki. Dan engkau, wahai neraka adalah adzabku, Aku mengadzab siapa saja yang Aku kehendaki, dan Akulah yang berhak memenuhi pengisi kamu berdua.”

[Shahih Muslim no. 2847]

Hadits 614.
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: « لَا يَنْظُرُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَى مَنْ جَرَّ إِزَارَهُ بَطَرًا » مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.
Daripada Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Allah tidak akan memandang orang yang menurunkan (menyeret) kainnya di bawah buku lali kerana sombong.”

[Shahih Al-Bukhari no. 5788 dan Muslim no. 2087]

Hadits 615.
وَعَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: « ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَلَا يُزَكِّيْهِمْ، وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ، وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ: شَيْخٌ زَانٍ، وَمَلِكٌ كَذَّابٌ، وَعَائِلٌ مُسْتَكْبِرٌ » رَوَاهُ مُسْلِمٌ. (الْعائِلُ): اْلفَقِيْرُ.
Daripada (Abu Hurairah radhiyallahu anhu), dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Ada tiga golongan yang pada hari Kiamat Allah tidak akan berbicara dengan mereka, Allah tidak akan membersihkan (dari dosa) mereka, Allah tidak akan memandang mereka, dan mereka akan disiksa dengan adzab yang pedih, yaitu orang tua yang berzina, pemimpin yang berbohong dan orang miskin yang sombong.

[Shahih Muslim no. 107]

Hadits 616.
وَعَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: « قَالَ اللهُ عزَّ وَجَلَّ: اْلعِزُّ إِزَارِي، وَالْكِبْرِيَاءُ رِدَائِي، فَمَنْ يُنَازِعُنِي فِي وَاحِدٍ مِنْهُمَا فَقَدْ عَذَّبْتُهُ » رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
Daripada (Abu Hurairah radhiyallahu anhu), dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 

Allah Ta'ala berfirman,

“Kemuliaan adalah pakaian-Ku dan kesombongan adalah selendang-Ku, maka barangsiapa yang menyaingi Aku dalam satu dari dua sifat itu, niscaya Aku siksa dia.”

[Shahih Muslim no. 2620]

Hadits 617.
وَعَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: « بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي فِي حُلَّةٍ تُعْجِبُهُ نَفْسُهُ، مُرَجِّلٌ رَأْسَهُ، يَخْتَالُ فِي مَشْيَتِهِ ، إِذْ خَسَفَ اللهُ بِهِ، فَهُوَ يَتَجَلْجَلُ فِي اْلأَرْضِ إِلَى يَوْمِ اْلقِيَامَةِ » مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.
Daripada (Abu Hurairah radhiyallahu anhu), bahwasanya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 

“Ketika seseorang berjalan dengan pakaian indah, rambutya tersisir rapi dan bangga terhadap dirinya, namun dia sombong dalam berjalan, tiba-tiba Allah Ta'ala membenamkannya (ke dalam bumi), hingga masuk dan terpendam di dalam tanah sampai hari Kiamat.”

[Shahih Al-Bukhari no. 5789 dan Muslim no. 2088]

Hadits 618.
وَعَنْ سَلَمَةَ بْنِ اْلأَكْوَعِ رَضيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: « لَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَذْهَبُ بِنفْسِهِ حَتَّى يُكْتَبَ فِي الجَبَّارِيْنَ، فَيُصِيْبُهُ مَا أَصَابَهمْ » رَوَاهُ التَّرْمِذِيُّ وَقَالَ: حَدِيْثٌ حَسَنٌ.
Daripada Salamah bin Al-Akwa radhiyallahu anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Seorang senantiasa membanggakan diri hingga akhirnya dicatat dalam golongan para pembangkang (angkuh), maka dia pun akan tertimpa seperti apa yang menimpa mereka.”

[Hr. At-Tirmidzi no. 6344 dinilai Dhaif oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Adh-Dhaifah no. 1914]

Isnin, 13 April 2020

Syarah Riyadhus Shalihin Bab 71. Tawaduk Dan Rendah Hati Terhadap Orang Mukmin.

Allah ﷻ berfirman:
۞وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ۞
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.” (QS. Asy-Syu'ara: 26: 215)

Allah ﷻ berfirman:
۞يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ۞
“Wahai orang-orang yang beriman! Barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir.” 
(QS. Al-Mâ' idah: 5: 54)

Allah ﷻ berfirman:
۞يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ ۞
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa.” (QS. Al-Hujurât: 49: 13)

Allah ﷻ berfirman:
۞فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ۞
“Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 53: 32)

Allah ﷻ berfirman:
۞وَنَادَىٰ أَصْحَابُ الْأَعْرَافِ رِجَالًا يَعْرِفُونَهُمْ بِسِيمَاهُمْ قَالُوا مَا أَغْنَىٰ عَنْكُمْ جَمْعُكُمْ وَمَا كُنْتُمْ تَسْتَكْبِرُونَ۞ أَهَٰؤُلَاءِ الَّذِينَ أَقْسَمْتُمْ لَا يَنَالُهُمُ اللَّهُ بِرَحْمَةٍ ۚ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمْ وَلَا أَنْتُمْ تَحْزَنُونَ۞
“Dan orang-orang yang di atas A'raaf memanggil beberapa orang (pemuka-pemuka orang kafir) yang mereka mengenalnya dengan tanda-tandanya dengan mengatakan, “Harta yang kamu kumpulkan dan apa yang selalu kamu sombongkan itu, tidaklah memberi manfaat kepadamu. (Orang-orang di atas A'raaf bertanya kepada penghuni neraka), “Itukah orang-orang yang kamu telah bersumpah bahwa mereka tidak akan mendapat rahmat Allah?” (Kepada orang mukmin itu dikatakan), “Masuklah ke dalam surga, tidak ada kekhawatiran terhadapmu dan tidak (pula) kamu bersedih hati.” (QS. Al-A'râf: 7: 48-49)

Hadits 600.
وَعَنْ عِيَاضِ بْنِ حِمَارٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: « إِنَّ اللهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَواضَعُوْا حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ، وَلَا يَبْغِيَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ » رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
Daripada 'lyadh bin Himar radhiyallahu anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku agar kalian bertawadhu' (merendah hati), hingga tidak ada seorang yang membanggakan diri di hadapan orang lain, dan tidak ada seorang pun yang berlaku aniaya terhadap lainnya.”

[Shahih Muslim no. 2865]

Hadits 601.
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: « مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ، وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا، وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ للهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللهُ » رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
Daripada Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwasanya, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

“Tidaklah sedekah itu mengurangi harta sedikit pun dan tidaklah Allah menambahkan pada seseorang kerana memaafkan (kesalahan orang) kecuali kemuliaan, dan tidaklah seseorang tawadhu (rendah hati) kerana Allah, kecuali Allah akan mengangkat derajatnya.”

[Shahih Muslim no. 2588]

Hadits 602.
وَعَن أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ مَرَّ عَلَى صِبْيَانٍ فَسَلَّمَ عَلَيْهِمْ وَقَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْعَلُهُ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.
Daripada Anas radhiyallahu anhu dia berkata, bahwasanya dia sering melewati anak-anak dan mengucapkan salam kepada mereka. Dan dia berkata, “Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam juga melakukannya.”

[Shahih Al-Bukhari no. 6247 dan Muslim no. 2168]

Hadits 603.
وَعَنْهُ قَالَ: إِنْ كَانَتِ الْأَمَةُ مِنْ إِمَاءِ الْمَدِينَةِ لَتَأْخُذُ بِيَدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَتَنْطَلِقُ بِهِ حَيْثُ شَاءَتْ. رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ.
Daripada Anas radhiyallahu anhu dia berkata, “Seandainya budak perempuan di Madinah menarik tangan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, niscaya dia bisa membawa baginda kemana saja dia suka.

[Shahih Al-Bukhari no. 6072]

Hadits 604.
وَعَنْ اْلأَسْوَدِ بْنِ يَزِيْدَ قَالَ: سُئِلَتْ عَائِشَةُ رِضِيَ اللهُ عَنْهَا: مَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُ فِي بَيْتِهِ؟ قَالَتْ: كَانَ يَكُوْنُ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ يَعْنِي: خِدْمَةِ أَهلِهِ فإِذَا حَضَرَتِ الصَّلَاة، خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ، رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ.
Daripada Al-Aswad bin Yazid radhiyallahu anhu dia berkata, Aisyah radhiyallahu anha pernah ditanya, “Apakah yang biasanya Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam lakukan di rumah?”

Aisyah menjawab, “Baginda membantu keluarganya dan apabila tiba waktu shalat, baginda keluar untuk shalat.”

[Shahih Al-Bukhari no. 676]

Hadits 605.
وَعَنْ أَبِي رِفَاعَةَ تَمِيْمِ بْنِ أُسَيْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: انْتَهَيْتُ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَخْطُبُ. فَقُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، رَجُلٌ غَرِيْبٌ جَاءَ يَسْأَلُ عَنْ دِيْنِهِ لَا يَدْرِيْ مَا دِيْنُهُ؟ فَأَقْبَلَ عَلَيَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَرَكَ خُطْبَتَهُ حَتَّى انْتَهَى إِلَيَّ، فَأُتِىَ بِكُرْسِيٍّ، فَقَعَدَ عَلَيْهِ، وَجَعَلَ يُعَلِّمُنِي مِمَّا عَلَّمَهُ اللهُ، ثُمَّ أَتَى خُطْبَتَهُ، فَأَتمَّ آخِرَهَا. رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
Daripada Abu Rifa'ah Tamim bin Usaid radhiyallahu anhu dia berkata, “Aku sampai kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam saat ia sedang berkhutbah, maka aku berkata, “Wahai Rasulullah, ada seorang asing datang untuk bertanya mengenai agama, kerana dia belum mengerti tentang agama.”

Kemudian Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam  pun menghampiriku dan meninggalkan khutbahnya hingga baginda sampai kepadaku dan dibawakan kursi untuk baginda, lalu baginda pun duduk di atasnya, mulailah baginda mengajarkan kepadaku apa yang telah Allah ajarkan kepada baginda kembali. Kemudian baginda melanjutkan khutbahnya hingga selesai.

[Shahih Muslim no. 876]

Hadits 606.
وَعَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَكَلَ طَعَامًا لَعِقَ أَصَابِعَهُ الثَّلَاثَ قَالَ: وَقَالَ: « إِذَا سَقَطَتْ لُقْمَةُ أَحَدِكُمْ، فَلْيُمِطْ عَنْهَا اْلأَذَى، وَلْيَأْكُلْهَا، وَلَا يَدَعْهَا لِلشَّيْطَانِ » وَأَمَرَ أَنْ تُسْلَتَ اْلقَصْعَةُ قَالَ: « فَإِنَّكُمْ لَا تَدْرُوْنَ فِي أَيِّ طَعَامِكُمُ البَركَةُ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
Daripada Anas radhiyallahu anhu bahwasanya, “Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam jika makan, baginda akan menjilat jari-jarinya yang tiga,” dan baginda bersabda,

“Jika makanan salah seorang dari kalian jatuh, maka hendaklah dia bersihkan kotorannya lalu makanlah dan jangan dibiarkan dimakan setan.”

Baginda pun memerintahkan untuk membersihkan sisa makan yang ada di piring, lalu bersabda,

“Sesungguhnya kalian tidak tahu pada makanan yang mana keberkahan itu berada.”

[Shahih Muslim no. 2024]

Hadits 607.
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: « مَا بَعَثَ اللهُ نَبِيًّا إِلاَّ رَعَى اْلغنَمَ » قَالَ أَصْحَابُهُ: وَأَنْتَ؟ فَقَالَ: « نَعَمْ، كُنْتُ أَرْعَاهَا عَلَى قَرَارِيْطَ لأَهْلِ مَكَّةَ » رَوَاهُ اْلبُخَاِريُّ.
Daripada Abu Hurairah radhiyallahu anhu dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

“Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi pun melainkan pernah menggembala kambing.”

Para sahabat bertanya, “Apakah engkau juga demikian?”

Baginda menjawab, “Ya, aku dahulu menggembala kambing penduduk Mekah dengan upah beberapa qirath.”

[Shahih Al-Bukhari no. 2262]

Hadits 608.
وَعَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَوْ دُعِيْتُ إِلَى كُرَاعٍ أَوْ ذِرَاعٍ لَقَبِلْتُ. وَلَوْ أُهْدِىَ إِليَّ ذِراعٌ أَوْ كُراعٌ لَقَبِلْتُ » رَوَاهُ  اْلبُخَارِيُّ.
Daripada (Abu Hurairah radhiyallahu anhu dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, baginda bersabda,

“Seandainya aku diundang untuk makan kaki atau paha (kambing atau yang serupa), niscaya aku penuhi dan seandainya, aku di beri paha atau kaki (kambing atau yang serupa) niscaya aku terima.”

[Shahih Al-Bukhari no. 2568]

Hadits 609.
وَعَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: كَانَتْ نَاقَةُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعَضْبَاءُ لَا تُسْبَقُ، أَوْ لَا تَكَادُ تُسْبَقُ، فَجَاءَ أَعْرَابِيٌّ عَلَى قَعُوْدٍ لَهُ، فَسَبَقَها، فَشَقَّ ذَلِكَ عَلَى المُسْلمِيْنَ حَتَّى عَرَفَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: «حَقٌّ عَلَى اللهِ أَنْ لَا يَرْتَفِعَ شَيءٌ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ وَضَعَهُ» رَوَاهُ اْلبُخَارِيُّ.
Daripada Anas radhiyallahu anhu dia berkata, “Unta Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam yang bernama Al-'Adhba' tidak pernah dikalahkan atau hampir tidak pernah terkalahkan, tiba-tiba datang seorang badui dengan menunggangi untanya, ternyata dapat mengalahkannya, kaum muslimin merasa berat akan hal itu, sampai hal itu diketahui Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

“Suatu kepastian Allah untuk tidak membiarkan sesuatu dari urusan dunia melambung tinggi kecuali akan Dia rendahkan.”

[Shahih Al-Bukhari no. 2872]

Jumaat, 10 April 2020

Syarah Riyadhus Shalihin Bab 70. Keutamaan Bergaul Dengan Orang Ramai Dan Menghadiri Majlis Yang Dianjurkan Oleh Orang Ramai Dengan Menghadiri Majlis Dzikir, Menziarah Orang Sakit, Menziarah Jenazah, Membantu Keperluan Mereka, Mengajar Orang Yang Memerlukan Di antara Mereka.

Ketahuilah bahwa bergaul dengan masyarakat dengan cara yang saya sebutkan di atas adalah perilaku istimewa yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan seluruh Nabi Shalawatullah wa Salamuhu Alaihim. Demikian juga para Khulafaur Rasyidin, para sahabat dan para tabi'in yang datang sesudah mereka, begitu pula para ulama kaum muslimin dan orang-orang terbaik dari mereka. Inilah madzhab mayoritas tabi'in dan orang-orang yang sesudah mereka. Imam Syafi'i dan Imam Ahmad pun berpendapat seperti ini, begitu pula mayoritas ulama fikih. Allah Ta'ala berfirman, “Tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan takwa.” (QS. Al-Mâ'idah: 5: 2). Ayat ini semakna dengan apa saya sebutkan, banyak sekali dan sudah diketahui.

Sabtu, 4 April 2020

Syarah Riyadhus Shalihin Bab 69. Sunnah Menyendiri Pada Saat Manusia Dan Zaman Telah Rusak Atau Kerana Khawatir Terganggu Agamanya, Atau Khawatir Terjerumus Dalam Haram Dan Syubhat.

Allah ﷻ berfirman:
۞فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ ۖ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌ۞
“Maka segeralah kembali kepada (menaati) Allah. Sesungguh, aku seorang pemberi peringatan yang jelas dari Allah untukmu.” 
(QS. Adz-Dzâriyat: 51: 50)

Hadits 595.
وَعَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: « إِنَّ اللهَ يُحِبُّ اْلعَبْدَ التَّقِيَّ الغَنِيَّ » رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
Daripada Sa'ad bin Abi Waqqash radhiyallahu anhu dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa lagi kaya (hati).”

[Shahih Muslim no. 2965]

Hadits 596.
وَعَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَجُلُ أَيُّ النَّاسِ أَفْضَلُ يَارَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: « مُؤْمِنٌ مُجَاهِدٌ بِنَفسِهِ وَمَالِهِ فِي سَبِيْلِ اللهِ » قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: « ثُمَّ رَجُلٌ مُعتَزِلٌ فِي شِعْبٍ مِنَ الشِّعَابِ يَعْبُدُ رَبَّهِ » وَفِي رِوايةٍ « يَتَّقِي اللهَ . وَيَدَعُ النَّاسِ مِنْ شَرّْهِ » مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.
Daripada Abu Said Al-Khudri radhiyallahu anhu dia berkata, “Seorang bertanya (kepada Nabi), “Siapakah mukmin yang berjihad dengan jiwa dan hartanya di jalan Allah,” “dia bertanya lagi, “kemudian siapa?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Kemudian seseorang yang menyendiri di suatu perkampungan dan beribadah kepada Allah.” Dalam riwayat lain, “Bertakwa kepada Allah dan menjauhi manusia dari kejahatannya.”

[Shahih Al-Bukhari no. 2786 Muslim no. 1888]

Hadits 597.
وَعَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: « يُوشِكَ أَنْ يَكُوْنَ خَيْرَ مَالِ الْمُسْلِمِ غَنَمٌ يَتَّتبَّعُ بِهَا شَعَفَ الْجِبَالِ. وَمَوَاقِعَ الْقَطْرِ يَفِرُّ بِدِيْنِهِ مِنَ اْلفِتَنِ » رَوَاهُ اْلبُخَارِيُّ.
Daripada Abu Said Al-Khudri radhiyallahu anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Hampir terjadi, bahwa sebaik-baik harta seorang muslim adalah kambing yang dia gembalakan sampai ke atas bukit dan mencari tempat-tempat penampungan air, semata-mata kerana melarikan diri menyelamatkan agamanya dari fitnah (cobaan).”

[Shahih Al-Bukhari no. 19]

Hadits 598.
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ. عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: « مَا بَعَثَ اللهُ نَبِيًّا إِلاَّ رَعَى الْغَنَمَ » فَقَالَ أَصْحَابُهُ: وَأَنْتَ؟ قَالَ: « نَعَمْ، كُنْت أَرْعَاهَا عَلى قَرَارِيْطَ لأَهْلِ مَكَّةَ » رَوَاهُ اْلبُخَارِيُّ.
Daripada Abu Hurairah radhiyallahu anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidaklah Allah mengutus seorang nabi pun melainkan pernah menggembala kambing.”

Para sahabat bertanya, “Apakah engkau juga demikian?”

Baginda menjawab, “Ya, aku dahulu menggembalakan kambing penduduk Mekah dengan upah beberapa qirath.”

[Shahih Al-Bukhari no. 2262]

Hadits 599.
وَعَنْهُ عَنْ رَسُوْلِ اللهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: « مِنْ خَيْرِ مَعَاشِ النَّاسِ رَجُلٌ مُمْسِكٌ عِنَانَ فَرْسِهِ فِي سَبِيْلِ اللهُ، يَطِيْرُ عَلَى مَتْنِهِ، كُلَّمَا سَمِعَ هَيْعَةً أَوْ فَزْعَةً، طَارَ عَلَيْهِ يَبْتَغِي الْقَتلَ، أَوِ الْمَوْتَ مظَانَّهُ، أَوْ رَجُلٌ فِي غُنَيْمَةٍ فِي رَأْسِ شَعَفَةٍ مِنْ هَذِهِ الشَّعَفِ، أَوْ بَطنِ وَادٍ مِنْ هَذِهِ اْلأَوْدِيَةِ، يُقِيْمُ الصَّلَاةَ وَيُؤتِي الزَّكَاةَ، وَيَعْبُدُ رَبَّهُ حَتَّى يَأْتِيَهُ اْليَقِيْنُ لَيْسَ مِنَ النَّاسِ إِلاَّ فِي خَيْرٍ » رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
Daripada (Abu Hurairah radhiyallahu anhu) dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Di antara kehidupan yang terbaik adalah seorang lelaki yang memegang kendali kudanya untuk berjuang di jalan Allah, melompat di atas punggungnya, setiap kali mendengar seruan dia melompat di atasnya (punggung kuda) untuk membunuh musuh atau menemui kematian dirinya, atau seorang yang memelihara kambing di atas gunung atau suatu lembah sambil menegakkan shalat, mengeluarkan zakat dan tetap menyembah Rabbnya hingga datang kematian. Tidak ada seorang pun yang demikian kecuali dia berada dalam kebaikan.”

[Shahih Muslim no. 1889]

Syarah Riyadhus Shalihin Bab 78. Perintah Bagi Para Penguasa Untuk Bersikap Lembut Dan Kasih Sayang Terhadap Rakyat Serta Larangan Menipu Rakyat Atau Berlaku Keras Terhadap Mereka Juga Mengabaikan Keperluan mereka.

  Allah ﷻ berfirman : ۞وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ۞ “Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang beriman...