Isnin, 27 Mei 2019

Syarah Riyadhus Shalihin (Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin) Bab 52. Keutamaan Mengharap Karunia Allah Ta'ala.

Allah ﷻ berfirman:
۞فَوِّضُ أَمْرِىٓ إِلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَصيرٌ بِٱلْعِبَادِ۞فَوَقاهُ اللهُ سَيِّئَاتِ مَا مَكَروا۞
Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sungguh Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka.” (QS. Al-Mu'min: 40: 44-45)

Hadits no. 439.
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهِ عَنْهُ عَنْ رَسُولِ اللهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: « قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ حَيْثُ يَذْ كُرُنِي، وَاللَّهِ للهُ أَفْرَحُ بِتَوْبةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ يَجِدُ ضَالَّتَهُ بِالْفَلاَةِ، وَمَنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ شِبْرًا، تَقرَّبْتُ إِلَيْهُ ذِرَاعًا، وَمَنْ تَقَرّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا، تَقَرَّبْتُ إلَيْهِ بَاعًا، وَإِذَا أَقْبَلَ إِلَيَّ يَمْشِي، أَقْبَلْتُ إلَيْهِ أُهَرْوِلُ » مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَهَذَا لَفْظُ إِحْدَى رِوَايَاتِ مُسْلِمٍ.
Daripada Abu Hurairah radhiyallahu anhu dia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 

Allah Ta'ala berfirman, Aku menurut sangkaan hamba-Ku dan Aku senantiasa bersamanya selama dia mengingat-Ku. Demi Allah, Allah lebih senang dengan menerima taubat hamba-Nya melebihi senangnya seseorang di antara kalian yang menemukan kembali binatang ternakannya yang telah hilang di tengah padang pasir. Barangsiapa yang mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekat kepadanya sehasta dan barangsiapa yang mendekat kepadan-Ku dalam sehasta, maka Aku mendekat kepadanya sedepa, dan apabila ia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku datang kepadanya dengan berlari.” Ini disebutkan dalam salah satu riwayat Imam Muslim.

[Shahih Al-Bukhari no. 7405. Muslim no. 2675]

Hadits no. 440.
وَعَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَبْلَ مَوْتِهِ بَثَلاَثَةِ أَيَّامٍ يَقُولُ: « لَا يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلاَّ وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ » رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

Daripada Jabir bin Abdullah radhiyallahu anhu, dia berkata, Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tiga hari sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, “Janganlah seseorang dari engkau semua itu meninggal dunia, melainkan ia harus memperbaguskan sangkaannya -berbaik sangka- kepada Allah Azza wajalla.”

[Shahih Muslim no. 2877]

Hadits no. 441.
وَعَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: « قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ مِنْكَ وَلَا أُبَالِي يَابْنَ آدَمَ، لَوْ بَلغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ، ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ، يَابْنَ آدَم، إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الْاَْرْضِ خَطَايَا، ثُمَّ لَقِيْتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا، لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً » رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ . وَقَالَ: حَدِيثٌ حَسَنٌ.
Daripada Anas radhiyallahu anhu dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 

Allah Ta'ala berfirman, Wahai anak Adam, selama kamu berdoa dan berharap kepada-Ku, pasti Aku mengampunkan dosa yang telah kamu lakukan, dan Aku tidak peduli berapa pun banyaknya. Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu bagaikan awan di langit, kemudian kamu memohon keampunan kepada-Ku, pasti Aku mengampunimu. Wahai anak Adam, sesungguhnya seandainya kamu datang kepada-Ku dengan membawa dosa seisi bumi, kemudian kamu mengharap kepada-Ku dalam keadaan tidak menyekutukan Aku, maka Aku akan mengampuni dosa yang seisi bumi banyaknya itu.

[HR. At-Tirmidzi no. 3540 dinilai Shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Sahihul Jami no. 4338 dan As-Sahihah no. 12.]

Penjelasan.

Imam An-Nawawi rahimahullah menyebutkan bab, “Keutamaan mengharap karunia Allah Ta'ala.” Setelah menyebutkan dalil-dalil yang menerangkan betapa luasnya rahmat Allah Ta'ala, penulis menyebutkan keutamaannya. Hendaknya setiap orang begitu berkeinginan dan berharap terhadap rahmat-Nya yang luas ini.

Kemudian menyebutkan ucapan seorang hamba mukmin yang shalih, yang pernah hidup pada masa Firaun dengan menyembunyikan keimanannya. Ia selalu menasihati kaumnya dengan menjelaskan bukti-bukti tentang kesesatan mereka yang nyata dan kebenaran Nabi Musa ‘alaihis salam, pada akhirnya ia berkata kepada mereka, seperti disebutkan dalam firman Allah Ta'ala.

“Maka kelak kamu akan ingat kepada apa yang kukatakan kepadamu. Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (QS. Al-Mu'min: 40: 44-45)

“Dan Aku menyerahkan urusanku kepada Allah.Yaitu aku memasrahkannya kepada Allah, tidak bersandar kepada yang selain-Nya dan tidak pula aku berharap kecuali kepada-Nya. “Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.” Allah Ta'ala berfirman, “Maka Allah Ta'ala memeliharanya dari kejahatan tipu daya.Yaitu dari tipuan buruk mereka terhadapnya. “Dari Firaun beserta kaumnya dikepung oleh adzab yang amat buruk.” 

Selanjutnya, Imam An-Nawawi rahimahullah menyebutkan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwasannya Allah Ta'ala berfirman dalam hadits Qudsi, “Aku menurut sangkaan hamba-Ku terhadap-Ku dan Aku senantiasa bersamanya selama ia mengingat-Ku.” Yaitu bahwa Allah selalu bersama dengan prasangka hamba tentang-Nya, jika ia berprasangka baik maka akan baik dan jika prasangkanya selain itu maka akan seperti itu. Tetapi kapan seorang hamba harus berbaik sangka kepada Allah Ta'ala.

Ia dikatakan berbalik sangka kepada Allah jika ia menunaikan konsekuensi karunia dan rahmat Allah. Setelah ia beramal shalih dan ia berbaik sangka kepada Allah maka sangkaannya akan diterima. Adapun mengklaim berbaik sangka kepada Allah tanpa usaha hanyalah angan-angan kepada Allah semata. Barangsiapa yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan karunia di sisi Allah maka orang itu lemah.

Berbaik sangka kepada Allah itu harus diiringi dengan amalan yang benar. Misalnya kita berbaik sangka kepada bahwa Allah akan menerima amalan yang telah kita lakukan seperti puasa, sedekah, atau mengamalkan amal shalih lainnya. Adapun berbaik sangka kepada Allah dengan tetap melakukan perbuatan maksiat adalah jalannya orang-orang yang lemah yang tidak memiliki bekal untuk perjalanannya.

Setelah itu, Imam An-Nawawi menyebutkan hadits yang menerangkan bahwa Allah memuliakan hamba-Nya. Jika seorang hamba mendekat kepada Allah satu jengkal maka Allah akan mendekat kepadanya satu hasta, dan jika mendekat satu hasta maka Allah akan mendekat kepadanya satu depa, dan jika hamba mendatangi-Nya dengan berjalan maka Allah mendatanginya dengan berlari. Maka Allah Ta'ala itu lebih memuliakan hamba-Nya dan mengabulkan permohonan hamba.

Hadits-hadits ini dan yang semisal dengannya adalah keyakinan Ah-lussunah wal Jamaah yaitu memahami teks ini dari sisi makna hakikatnya bagi Allah Ta'ala. Kita tidak mengetahui bagaimana sifat lari Allah dan bagaimana cara mendekat-Nya. Hal ini semua kita serahkan kepada Allah. Kita tidak berhak untuk berbicara sedikit pun mengenainya. Kita menyakini maknaya sesuai makna (bahasa Arab) dan caranya kita serahkan kepada Allah Ta'ala.

Setelah itu, Iman An-Nawawi rahimahullah menyebutkan hadits-hadits yang semuanya menunjukkan bahwa setiap orang harus berbaik sangka kepada Allah Ta'ala dengan disertai amal yang harus dilakukan. Semoga kita, kaum muslimin mendapatkan taufik dan kebaikan di dunia dan akhirat.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan

Syarah Riyadhus Shalihin Bab 78. Perintah Bagi Para Penguasa Untuk Bersikap Lembut Dan Kasih Sayang Terhadap Rakyat Serta Larangan Menipu Rakyat Atau Berlaku Keras Terhadap Mereka Juga Mengabaikan Keperluan mereka.

  Allah ﷻ berfirman : ۞وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ۞ “Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang beriman...