Allah ﷻ berfirman:
۞فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ۞
“Tidak ada yang merasa aman dari siksaan Allah selain orang-orang yang rugi.”
(QS. Al-A’râf: 7: 99)
۞إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ۞
“Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir.” (QS. Yusuf: 12: 87)
۞يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ۞
“Pada hari itu ada wajah yang putih seri, dan ada pula wajah yang hitam muram.”
(QS. Âli-Imrân: 3: 106)
۞إِنَّ رَبَّكَ لَسَرِيعُ الْعِقَابِ وَإِنَّهُ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ۞
“Sesungguhnya Tuhanmu sangat cepat siksa-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(QS. Al-A’râf: 7: 167)
Allah ﷻ berfirman:
۞إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ۞وَإِنَّ الْفُجَّارَ لَفِي جَحِيمٍ۞
“Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam (surga yang penuh) kenikmatan dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka.”
(QS. Al-Infithâr: 82: 13-14)
۞فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ۞فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ۞وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ۞فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ۞
“Maka adapun orang yang berat timbangan amal baiknya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan (senang). Dan adapun orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.”
(QS. Al-Qari’ah: 101: 6-9)
Hadits no. 442
Daripada Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Hadits no. 443.
Daripada Ibnu Mas'ud radhiyallahu anhu dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: « لَوْ يَعْلَمُ الْمُؤْمِنُ مَا عِنْدَ اللهِ مِنَ الْعُقُـوبَةِ مَا طَمِعَ بِجَنَّتِهِ أَحَدٌ، وَلَوْ يَعْلَمُ الْكَافِرُ مَا عِنَدَ اللهِ مِنَ الرَّحْمَةِ، مَا قَنَطَ مِنْ جنَّتِهِ أَحَدٌ » رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
“Jikalau seorang mukmin mengetahui beratnya siksaan yang di sisi Allah, maka tidak akan ada seorang pun yang berharap terhadap surga-Nya. Seandainya seorang kafir mengetahui luasnya rahmat yang ada di sisi Allah, tidak akan ada seorang pun yang putus asa terhadap surga-Nya.”
[Shahih Muslim no. 2755]
Hadits no. 443.
وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: « إذَا وُضِعَتِ الْجَنَازَةُ وَاحْتمَلَهَا النَّاسُ أَوِ الرِّجَالُ عَلَى أَعْنَاقِهمْ، فَإِنْ كَانَتْ صَالِحَةً قَالَتْ: قَدِّمُونِي قَدِّمُونِي، وَإنْ كَانَتْ غَيْرَ صَالِحَةٍ، قَالَتْ: يَا وَيْلَهَا، أَيْنَ تَذْهَبُونَ بَهَا؟ يَسْمَعُ صَوْتَهَا كُلُّ شَيْءٍ إلاَّ الْاَّنْسَانُ، وَلَوْ سَمِعَهُ لَصَعِقَ » رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ.
Daripada Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Apabila jenazah diletakkan lalu dibawa oleh orang-orang yang memikulnya di atas bahu mereka, jika jenazah itu soleh, niscaya dia berkata, “Cepatlah, cepat hantarkan aku.” Namun, apabila jenazah tidak soleh maka dia berkata, ”Aduh celaka, akan dibawa ke mana aku ini?” Semua makhluk mendengar suara jenazah itu kecuali manusia, seandainya manusia itu mendengarnya pasti pengsan.”
[Shahih Al-Bukhari no. 1314. An-Nasa'i dalam Al-Kubra no. 2036. Ahmad dalam Al-Musnad no 3/41. Ibnu Hibban no. 3038, 3039]
Hadits no. 444.
وَعَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ، رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: « اَلْجَنَّةُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ شِرَاكِ نَعْلِهِ وَالنَّارُ مِثْلُ ذَلِكَ » رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ.
“Surga itu lebih dekat kepada salah seorang di antara kalian dari tali sandalnya. Dan demikian pula dengan neraka.”
[Shahih Al-Bukhari no. 6488]
[Shahih Al-Bukhari no. 6488]
Penjelasan.
Imam An-Nawawi rahimahullah menyebutkan bab, “Menghimpunkan Perasaan Takut Dan Pengharapan.” Para ulama berbeda pendapat, apakah seseorang itu harus mengedepankan sisi takutnya atau harapnya?
Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa sisi harap itulah yang harus dikedepankan, sebagian ada yang berpendapat harus mengedepankan sisi takutnya. Sebagian ada lagi yang menyamakan antara rasa takut dan harapnya, tidak memperbanyak salah satunya. Sebab, jika ia memperbanyakkan sisi harapnya saja, ia akan merasa aman dari sikap Allah dan jika ia memperbanyakkan sisi takutnya ia akan putus asa terhadap rahmat Allah.
Sebagian berpendapat dalam kondisi sehat hendaknya seseorang menyamakan antara keduanya, sementara dalam kondisi sakit hendaknya memperbanyakkan sisi harapnya, sebagaimana pendapat Iman An-Nawawi rahimahullah ini.
Sebagian ulama mengatakan, “Ketika menunaikan ketaatan, hendaknya seseorang mengedepankan sisi harapnya agar Allah menerima amal baiknya. Tetapi ketika bermaksiat kepada-Nya, ia mengedepankan rasa takutnya, agar tidak meneruskan kemaksiatannya.”
Hendaknya setiap orang menjadi pengontrol dirinya. Ketika dirinya merasa aman dari siksa Allah, berbuat maksiat, tetapi ia berangan-angan dengan apa yang ada di sisi-Nya, maka tinggalkanlah sisi ini, dan telusurilah sisi takutnya. Ketika ia merasa lebih dominan, hendaknya ia cepat sadar dan kembali menyeberang ke sisi harapnya sehingga keduanya seimbang.
Selanjutnya, Iman An-Nawawi menyebutkan ayat-ayat yang menjelaskan hal yang mengharuskan seseorang takut dan berharap kepada Allah, menjelaskan tentang penghuni surga dan neraka, menjelaskan sifat Allah Ta'ala, Dialah Allah Yang Maha Dahysat Siksaan-Nya, juga Maha Pengampun dan Penyayang.
Mari kita renungkan firman Allah Ta'ala,
“Ketahuilah, bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya dan bahwa Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. kewajiban Rasul tidak lain hanyalah menyampaikan (amanat Allah).” (QS. Al-Mâ'idah: 5: 98-99)
Allah menyebutkan terlebih dahulu bahwa Dia sangat keras siksaan-Nya dalam peringatan ayat ini.
Tetapi ketika berfirman Diri-Nya dan menjelaskan kesempurnaan sifat-Nya,
“Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa Akulah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang dan sesungguhnya adzab-Ku adalah adzab yang sangat pedih.”
(QS. Al-Hijr: 15: 49-50)
Allah mendahulukan ampunan daripada siksa-Nya, kerana Dia berfirman tentang Diri dan sifat-sifat-Nya yang sempurna. Dan Rahmat-Nya mendahului murka-Nya.
Setelah itu, Iman An-Nawawi menyebutkan hadits-hadits yang senada dengan makna ini, yaitu setiap orang harus menyetarakan antara rasa takut dan harapnya. Di antaranya sabda Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, “Jikalau seorang mukmin mengetahui apa yang ada di sisi Allah dari siksa-Nya, maka tentu tidak ada seorang pun yang sangat berharap terhadap surga-Nya.” Maksudnya jika mengetahui hakikat dan tata caranya, bukan mengetahui dengan ilmu teoritis. Kerana seorang mukmin mengetahui apa yang ada di sisi Allah dari siksa-Nya adalah untuk orang-orang kafir dan sesat, tetapi hakikatnya tidak dapat dirasakan di dunia ini, tidak ada yang mengetahuinya kecuali yang merasakannya. Semoga Allah menjauhkan siksa-Nya dari kita semua.
“Seandainya seorang kafir mengetahui apa yang di sisi Allah dari keluasan rahma-Nya, tidak akan ada seorang pun yang putus asa terhadap surga-Nya.” Maksudnya adalah hakekatnya, kerana orang kafir hakekatnya mengetahui bahwa Allah itu Maha Pengampun dan Penyayang, mengetahui makna ampunan dan rahmat-Nya.
Iman An-Nawawi juga menyebutkan sabda Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, “Surga itu lebih dekat dengan salah seorang di antara kalian dari tali terompahnya, begitu juga dengan neraka.”
Tali terompah itu menunjukkan kedekatannya dengan dirinya, kerana seseorang selalu memakainya, maka surga itu lebih dekat kepada seseorang melebihi tali terompahnya, kerana bisa jadi surga itu dicapai dengan satu kata, begitu juga neraka. Biasa jadi seseorang masuk neraka hanya dengan satu kata yang terucap. Contohnya seseorang yang melewati seorang yang berbuat maksiat kemudian ia melarang dan memakinya, tetapi setelah ia kesal ia melontarkan kata-kata, “Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni fulan.” Kemudian Allah berfirman, “Siapakah orang yang bersumpah atas nama-Ku, kalau Aku tidak akan mengampuni dosa fulan, Aku telah mengampuninya dan Aku binasakan amalmu.”
[Shahih Muslim no. 2621]
Abu Hurairah radhiyallahu Anhu berkata, “Terucap satu kata yang memberangus dunia dan akhiratnya.” Nauzu billah.
Oleh kerana itu, hendaknya setiap orang bisa mengontrol dirinya dalam berharap atau takut kepada Allah Ta'ala, jika dirinya lebih cenderung pada rasa harap, mulai lengah pada kewajiban, mulai melakukan perbuatan haram, hendaknya segera bertaubat, memohon ampunan dan mengedepankan rasa takutnya terhadap siksa Allah Ta'ala, serta bersegera meninggalkan kemaksiatannya, sebaliknya ketika ia mendapatkan bisikan-bisikan setan bahwa Allah tidak akan menerima amalnya, bersegeralah meninggalkan hal ini menuju jalan yang mengandung maslahat dirinya seperti dalam kondisi sehat dan sakitnya.
Tiada ulasan:
Catat Ulasan