۞قُلْ يَـٰعِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ۞
“Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri (dengan perbuatan-perbuatan maksiat), janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah, kerana sesungguhnya Allah mengampunkan segala dosa; sesungguhnya Dialah jua Yang Maha pengampun, lagi Maha Mengasihani.”
(QS. Az-Zumar: 9: 53)
Allah ﷻ berfirman:
۞وَهَلْ نُجَـٰزِيٓ إِلاَّ الْكَفُورَ۞
“Demikian Kami membalas mereka disebabkan kekufuran mereka, dan sebenarnya Kami tidak menimpakan balasan yang demikian melainkan kepada orang-orang yang amat kufur.”
(QS. Saba: 34: 17)
Allah ﷻ berfirman:
۞إِنَّا قَدْ أُوحِيَ إِلَيْنَا أَنَّ الْعَذَابَ عَلَىٰ مَنْ كَذَّبَ وَتَوَلَّىٰ۞
“Sesungguhnya telah diwahyukan kepada kami bahwa azab seksa di dunia dan di akhirat ditimpakan kepada orang yang mendustakan ayat-ayat Allah dan berpaling daripadanya.” (QS. Taha: 20: 48)
Allah ﷻ berfirman:
۞وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ۞
“Dan rahmat-Ku meliputi tiap-tiap sesuatu.”
(QS. Al-A’râf: 7: 156)
Hadits no. 411.
وَعَنْ عُبَادَة بْنِ الصَّامِتِ، رَضَيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: « مَنْ شَهِدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ، وأَنَّ الْجَنَّةَ حَقٌّ وَالنَّارَ حَقٌّ، أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ » مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.
Daripada Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu anhu dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa yang bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa tiada sekutu bagi-Nya dan Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya, dan (bersaksi) bahwa Isa adalah hamba Allah, Rasul-Nya dan firman-Nya yang Dia berikan kepada Maryam serta ruh dari-Nya, dan surga itu benar, neraka itu benar, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga sesuai dengan amal perbuatannya.”
[Shahih Al-Bukhari no. 3435. dan Muslim no. 28]
Dalam riwayat Muslim disebutkan, “Barangsiapa yang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang layak disembah kecuali Allah dan Muhammad utusan Allah, maka Allah mengharamkan neraka atasnya.”
[Shahih Muslim no. 29. At-Tirmidzi no. 2638. Nasa'i no. 10967]
Hadits no. 412.
وَعَنْ أَبِي ذَرٍّ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قالَ: قَالَ النبيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: « يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ، فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا أَوْ أَزْيْدُ، وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ، فَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا أَوْ أَغْفِرُ. وَمَنْ تَقَرَّبَ مِنِّي شِبْرًا، تَقَرَّبْتُ مِنْهُ ذِرَاعًا، وَمَنْ تَقَرَّبَ مِنِّي ذرَاعًا، تَقَرَّبْتُ مِنْهُ باعًا، وَمَنْ أَتَانِي يَمْشِي، أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً، وَمَنْ لَقِيَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطِيئَةً لَا يُشْرِكُ بِي شَيْئًا، لَقِيتُهُ بِمِثْلِهَا مَغْفِرَةً » رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
Daripada Abu Zarr radhiyallahu anhu dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Allah Ta'ala berfirman, “Barangsiapa yang mengerjakan satu kebaikan, dia akan dibalas dengan sepuluh kali ganda atau lebih, dan barangsiapa yang mengerjakan satu kejahatan, dia akan dibalas dengan satu kejahatan atau Aku akan mengampuninya. Barangsiapa yang hampir kepada-Ku sejengkal, maka Aku hampir kepadanya sehasta. Barangsiapa yang hampir kepada-Ku sehasta, maka Aku hampir kepadanya sedepa. Barangsiapa yang datangi kepada-Ku dengan berjalan, nescaya Aku datang kepadanya dengan berlari. Dan barangsiapa yang berjumpa kepada-Ku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, sedangkan dia tidak menyekutukan Aku dengan sesuatu pun, maka Aku akan menerimanya dengan keampunan sebanyak isi bumi juga.”
[Shahih Muslim no. 2687]
Hadits no. 413.
وَعَنْ جَابَرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلَى النَّبيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا الْمُوجِبَتَانِ؟ فَقَالَ: « مَنْ مَاتَ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ مَاتَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا، دَخَلَ النَّارَ » رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
Daripada Jabir radhiyallahu anhu dia berkata, bahwa seorang Arab Badwi datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, Apakah dua hal yang sudah pasti itu?”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Barangsiapa meninggal dunia sedangkan dia tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu, maka dia masuk surga. Dan barangsiapa yang meninggal dunia sedangkan dia menyekutukan Allah dengan sesuatu, maka dia masuk neraka.”
[Shahih Muslim no. 93]
Hadits no. 414.
وَعَنْ أَنسٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَمُعَاذٌ رَدِيفُهُ عَلَى الرَّحْلِ قَالَ: « يَا مُعَاذُ » قَالَ : لَبَّيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَسَعْدَيْكَ، قَالَ: « يَا مُعَاذُ » قَالَ: لَبَّيْكَ يَارَسُولَ اللَّهِ وَسَعْديْكَ. قَالَ: « يَا مُعَاذُ » قَالَ: لَبَّيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَسَعْدَيْكَ ثَلاَثًا، قَالَ: « مَا مِنْ عَبْدٍ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ صِدْقًا مِنْ قَلْبِهِ إِلاَّ حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ » قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلاَ أُخْبِرُ بِهَا النَّاسَ فَيَسْتَبْشِرُوا؟ قَالَ: « إِذًانْ يَّتَّكِلُوا » فَأَخْبَرَ بِهَا مُعَاذٌ عِنْدَ مَوْتِهِ تَأَثُّمًا. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.
Daripada Anas radhiyallahu anhu dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Muaz radhiyallahu anhu sama-sama berada di atas kenderaan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil, “Wahai Muaz!”
Muaz menjawab, “Wahai Rasulullah, aku penuhi panggilanmu.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil kembali, “Wahai Muaz!”
Muaz menjawab, “Wahai Rasulullah, aku penuhi panggilanmu.”
Perkara ini berulang sampai tiga kali. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda,
“Tidaklah seseorang bersaksi bahawa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan Muhammad adalah Rasulullah, tulus dari dalam hatinya, kecuali Allah akan mengharamkan baginya neraka.”
Lalu Muaz bertanya, “Apakah boleh aku memberitahu hal itu kepada orang lain, sehingga mereka bergembira dengannya?”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Nanti mereka akan menjadi malas.” (untuk beramal)
Lalu Muaz menyampaikan hadits itu ketika dia akan meninggal dunia kerana takut akan dosa.”
[Shahih Al-Bukhari no. 128. Muslim no. 32. Ahmad 5/230]
Hadits no. 415.
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَوْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضيَ اللَّهُ عَنْهٌمَا: شَكَّ الرَّاوِي، وَلَا يَضُرُّ الشَّكُّ فِي عَيْنِ الصَّحَابِيَّ، لِأَنَّهُمْ كُلُّهُمْ عُدُولٌ، قَالَ: لَمَّا كَانَ يَوْمُ غَزْوَةِ تَبُوكَ، أَصَابَ النَّاسَ مَجَاعَةٌ، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوْ أَذِنْتَ لَنَا فَنَحَرْنَا نَوَاضِحَنَا، فَأَكَلْنَا وَادَّهَنَّا؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: « افْعَلُوا » فَجَاءَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ فَعَلْتَ قَلَّ الظَّهْرُ، وَلَكِنْ ادْعُهُمْ بِفَضْلِ أَزْوَادِهِمْ، ثُمَّ ادْعُ اللَّهَ لَهُمْ عَلَيْهَا بِالْبَرَكَةِ لَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَ فِي ذَلِكَ الْبَرَكَةَ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: « نَعَمْ » فَدَعَا بِنِطْعٍ فَبَسَطَهُ، ثُمَّ دَعَا بِفَضْلِ أَزْوَادِهِمْ، فَجَعَلَ الرَّجُلُ يَجِيءُ بِكَفِّ ذُرَةٍ وَيَجِيءُ الْآخَرُ بِكَفِّ تَمْرٍ، وَيَجِيءُ الْآخَرُ بِكِسْرَةٍ حَتَّى اجْتَمَعَ عَلَى النِّطْعِ مِنْ ذَلِكَ شَيءٌ يَسِيرٌ، فَدَعَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْبَرَكَةِ، ثُمَّ قَالَ « خُذُوا فِي أَوْعِيَتِكُمْ، فَأَخَذُوا فِي أَوْعِيَتِهِمْ حَتَّى مَا تَرَكُوا فِي الْعَسْكَرِ وِعَاءً إِلاَّ مَلَـُٔوهُ، وَأَكَلُوا حَتَّى شَبِعُوا وَفَضَلَ فَضْلَةٌ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: « أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ، وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ لَا يَلْقَى اللَّهَ بِهِمَا عَبْدٌ غَيْرُ شَاكٍّ، فَيُحْجَبَ عَنِ الْجَنَّةِ » رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
Daripada Abu Hurairah radhiyallahu anhu, atau dari Abu Said Al-Khudri radhiyallahu anhu meriwayatkan hadits ini berasa ragu-ragu adakah daripada Abu Hurairah atau Abu Said, tetapi keraguan seperti ini tidak mencacatkan kesahihan hadits pada dari sahabat, kerana semua sahabat adalah orang-orang yang adil. Dia berkata bahwa ketika perang Tabuk, para sahabat menderita kelaparan, maka mereka berkata, “Wahai Rasulullah, seandainya engkau mengizinkan, kami akan menyembelih haiwan ternakan untuk dimakan, sehingga dapat menambah kekuatan kami.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Laksanakanlah!”
Kemudian Umar radhiyallahu anhu datang dan berkata, “Wahai Rasulullah, jika engkau memberi izin kepada kami (untuk menyembelih haiwan ternakan mereka), maka kenderaan (tunggangan) kita menjadi sedikit, tetapi perintahkan mereka yang masih mempunyai sisa-sisa bekalan makanan untuk mengumpulkannya, kemudian berdoalah kepada Allah agar sisa bekalan makanan itu membawa keberkatan bagi mereka. Dengan demikian, semoga Allah memberi keberkatan terhadap sisa bekalan makanan itu bagi mereka.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ya, benar.”
Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghamparkan kain dan menyeru kepada orang-orang yang masih mempunyai sisa bekalan makanan untuk dikumpulkan pada kain itu. Ada seseorang yang menyerahkan segenggam jagung, ada yang menyerahkan sepotong roti, sehingga terkumpullah sisa-sisa bekalan makanan yang sedikit itu diberi keberkatan. Selepas itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Ambillah dengan membawa bekas (wadah) masing-masing.”
Maka mereka membawa bekas dan diisi dengan makanan pada kain yang terhampar itu sehingga akhirnya semua bekas mereka menjadi penuh, dan mereka makan dengan kenyang, bahkan pada kain itu masih mempunyai sisa makanan. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah dan aku adalah utusanNya. Tidaklah seorang hamba menjumpai Allah (dalam keadaan) tidak ragu-ragu terhadap dua kalimat syahadat tersebut, melainkan dia masuk surga.”
[Shahih Muslim no. 27. Ahmad dalam Al-Musnad 3/11. Abu Ya'la dalam Musnad-nya no. 1199]
Hadits no. 416.
وَعَنْ عِتْبَانَ بْنِ مَالِكٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، وَهُوَ مِمَّنْ شَهِدَ بَدْرًا، قَالَ: كُنْتُ أُصَلِّي لِقَوْمِي بَنِي سَالِمٍ، وَكَانَ يَحُولُ بَيْنِي وَبَيْنَهُمْ وَادٍ إِذَا جَاءَتِ الْأَمْطَارُ، فَيَشُقُّ عَلَيَّ اجْتِيَازُهُ قِبَلَ مَسْجِدِهِمْ، فَجِئْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقُلْتُ لَهُ: إِنِّي أَنْكَرْتُ بَصَرِي، وَإِنَّ الْوَادِيَ الَّذِي بَيْنِي وَبَيْنَ قَوْمِي يَسِيلُ إِذَا جَاءَتِ الْأَمْطَارُ، فَيَشُقُّ عَلَيَّ اجْتِيَازُهُ، فَوَدِدْتُ أَنَّكَ تَأْتِي، فَتُصَلِّيِّ فِي بَيْتِي مَكَانًا أَتَّخِذُهُ مُصَلًّى، فَقَالُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: « سَأَفْعَلُ » فَغَدا عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ، وَأَبُو بَكْرٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، بَعْدَ مَا اشْتَدَّ النَّهَارُ، وَاسْتَأْذَنَ رسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَذِنْتُ لَهُ، فَلَمْ يَجْلِسْ حَتَّى قَالَ: « أَيْنَ تُحِبُّ أَنْ أُصَلِّيَ مِنْ بَيْتِكَ؟ » فَأَشَرْتُ لَهُ إِلَى الْمَكَانِ الَّذِي أُحِبُّ أَنْ يُصَلِّيَ فِيهِ، فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَكَبَّرَ وَصَفَفْنَا وَراءَهُ، فَصَلَّى رَكَعَتَيْن، ثُمَّ سَلَّمَ وَسَلَّمْنَا حِينَ سَلَّمَ، فَحَبَسْتُهُ عَلَى خَزِيرَةٍ تُصْنَعُ لَهُ، فَسَمِعَ أَهْلُ الدَّارِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي بَيْتي، فَثَابَ رِجَالٌ مِنْهُمْ حَتَّى كَثُرَ الرِّجَالُ فِي الْبَيْتِ، فَقَالَ رَجُلٌ: مَا فَعَلَ مَالِكٌ لَا أَرَاهُ، فَقَالَ رَجُلٌ: ذَلِكَ مُنَافِقٌ لَا يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ « لَا تَقُلْ ذَلِكَ أَلاَ تَرَاهُ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ تَعَالَى ». فَقَالَ: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، أَمَّا نَحْنُ فَوَاللَّهِ مَا نَرَى وُدَّهُ وَلاَ حَديثَهُ إِلاَّ إِلَى الْمُنَافِقينَ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: « فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهِ اللهِ » مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.
Daripada Itban bin Malik radhiyallahu anhu salah seorang sahabat yang mengikuti perang Badar, ia berkata,
“Aku biasa menjadi imam bagi kaumku, bani Salim. Aku dan mereka terhalang lembah apabila musim hujan, sehingga aku tidak bisa mendatangi masjid mereka. Maka aku pun menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Sesungguhnya penglihatanku telah kurang, dan kaumku juga terhalang oleh lembah jika musim hujan, sehingga aku tidak bisa mendatangi masjid mereka. Oleh kerana itu, sudikah kiranya tuan datang ke rumahku, dan shalat di mushalla yang telah aku persiapkan?”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Boleh, aku akan melakukannya.”
Keesokan harinya setelah cuaca begitu panas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakar radhiyallahu anhu datang ke tempatku. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta izin untuk masuk, dan aku mempersilakannya, tetapi Rasulullah tidak terus duduk, lantas bertanya, “Di sebelah manakah yang kamu inginkan aku shalat di rumahmu?” Aku menunjukkan tempatnya, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri dan bertakbir, lalu kami mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat dua raka'at kemudian salam, dan kami pun mengucapkan salam setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkannya.
Setelah itu aku mempersilakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menikmati hidangan bubur tepung gandum yang aku sediakan. Para tetangga mendengar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di rumahku, maka ramai yang datang hingga memenuhi rumahku. Lalu salah seorang berkata, “Apa yang sedang dilakukan oleh Malik, aku pun tidak tahu.”
Lantas ada orang yang berkata, “Dia adalah munafik yang tidak cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.”
Mendengar itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Kamu jangan berkata seperti itu, apakah kamu tidak tahu bahwa dia mengucap, lā ʾilāha ʾillallāh. (Tidak ada Tuhan selain Allah), dengan mengharap ridha Allah?”
Orang itu menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu. Adapun kami, demi Allah tidak mengetahui kecintaan dan kata-katanya melainkan lebih kepada orang-orang munafik.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta'ala mengharamkan api neraka kepada orang yang mengucapkan, lā ʾilāha ʾillallāh Muḥammad rasūlu-llāh (tidak ada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah) dengan tujuan untuk mencari ridha Allah.”
[Shahih Al-Bukhari no. 425. dan Muslim no. 33]
Penjelasan.
Imam An-Nawawi rahimahullah menyebutkan dari Itban bin Malik radhiyallahu anhu, ia biasa menjadi imam shalat kaumnya yaitu bani Salim, sementara antara rumah dia dan kaumnya terhalang lembah yang banjir, ketika datang banjir ia tidak dapat melewatinya.
Di samping itu penglihatannya juga telah berkurang, kesulitannya pun jadi semakin bertambah, dari sisi berjalan serta dari sisi melihat dan memandang, kemudian ia menghadap Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam dan mengadukan hal itu. Dia meminta Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam mengunjungi rumahnya untuk shalat pada satu bagian rumahnya, yang dijadikan mushala oleh Itban untuk shalat kalau ia berhalangan ke masjid.
Kemudian Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda, “Boleh, aku akan melakukannya” kemudian setelah cuaca begitu panas Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam dan Abu Bakar radhiyallahu anhu pergi. Abu Bakar adalah sahabatnya, baik ketika berada di rumah atau ketika dalam perjalanan, Abu Bakar hampir tidak pernah berpisah dengan Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, banyak yang disabdakan Rasulullah, “Aku datang bersama Abu Bakar dan Umar,” “Aku pergi bersama Abu Bakar dan Umar” “Aku kembali bersama Abu Bakar dan Umar.”
Keduanya (Abu Bakar dan Umar) radhiyallahu anhuma adalah sahabat dan pembantu di dunia, di alam barzakh dan sahabat Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam pula pada hari kiamat. Mereka bertiga berdiri menghadap Tuhan semesta alam dari satu tempat, yaitu dari rumah tempat dimakamkannya Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, yang sekarang menjadi bagian masjid Nabawi.
Kita bisa melihat hikmah di balik itu, Allah Ta'ala memilih rumah tempat mereka dikuburkan berada di area masjid, agar mereka bertiga di bangkitkan pada hari kiamat dari tengah masjid, yaitu masjid Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam.
Oleh kerana itu, kita tidak boleh membenci sesuatu hal yang telah Allah tetapkan, kerana Allah menetapkan sesuatu itu pasti di dalamnya terdapat maslahat yang tidak kita sedari. Sebagian orang tidak menginginkan rumah Rasulullah, tempat dikuburkannya Rasulullah berada di tengah masjid, mereka mengatakan, “Ini menyerupai orang-orang yang menyembah kubur yang membangun masjid di kuburan.”
Dalam hal ini sudah jelas, kerana masjid Nabawi itu tidak dibangun di atas kubur. Sesungguhnya terjadi perluasan masjid dan makam Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam ini tetap pada bagian rumah menyendiri dari masjid. Tidak ada alasan lain untuk mengatakan itu, kecuali orang yang batil, ia mengatakan sebagaimana perkataan Iblis,
“Aku lebih baik daripada dia. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS. Al-A'râf: 7: 12)
Lihatlah hikmah dibalik itu, mereka bertiga dibangkitkan di hari kiamat dari satu tempat, dari tengah-tengah masjid Nabawi, Maha suci Allah Yang Mahaagung, hikmah besar yang sedikit orang yang menyadarinya.
Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam keluar ketika matahari panas, yaitu ketika matahari mulai naik menyinari rumah-rumah bani Malik. Setelah itu Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam meminta masuk dan ia mempersilakan. Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam pun masuk tetapi belum lagi duduk Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam mengatakan, “Dimanakah kamu menginginkan aku shalat?” Kerana Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam datang untuk tujuan itu, dan ingin menunaikannya sebelum yang lain. Inilah hikmahnya, ketika kita menginginkan sesuatu jangan terlena dengan yang lain sehingga tujuan utama itu tercapai, untuk memanfaatkan waktu seefisien mungkin dan mendapatkan berkah.
Kebanyakan orang menyia-nyiakan waktunya kerana terlena dengan sesuatu yang bukan menjadi prioritasnya. Misalnya kita ambil contoh, anda ingin membaca suatu masalah ilmiah dalam sebuah buku, anda membaca daftar isinya, agar anda mengetahui di mana letak permasalahan ini, lalu ada masalah lagi yang menghampiri, anda berkata, “Aku akan mengkaji masalah ini,” kemudian anda mengkaji permasalahan yang lainnya, sehingga maksud pertama anda membaca buku tadi terbengkalai. Mulailah dengan keinginan anda yang pertama, setelah itu baru mengarah kepada yang selanjutnya.
Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam shalat di tempat yang ditujukkan, para jamaah shalat bersamanya, kerana jamaah ini adalah jamaah sementara, bukan selamanya.
Seusai shalat, Itban telah menyediakan hidangan sederhana, lalu para tetangganya mendengar bahwa Rasulallah shalallahu alaihi wa sallam berada di rumah Itban bin Malik. Orang-orang pun datang berbondong-bondong ingin mendapatkan petunjuk dan mendengar sabda dari Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam serta mengamalkan sunnah-sunnahnya. Setelah mereka berkumpul mereka mengatakan, “Mana fulan?” Mereka menjawab, “Ia adalah seorang munafik,” kemudian Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam mengingkari perkataan itu dan bersabda, “Kamu jangan berkata seperti itu. Apakah kamu tidak tahu bahwa ia mengucapkan, “Laa Ilaaha Illallah,” dengan mengharap ridha Allah?”
Kemudian seseorang menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu,” kerana seorang yang mengucapkan, “Laa Ilaaha Illallah,” dengan mengharap ridha Allah adalah seorang mukmin bukan seorang munafik, kerana orang munafik itu mengucapkan dengan riya dan sum'ah, syahadatnya itu tidak masuk ke dalam hatinya. Adapun orang yang mengatakannya kerana mencari ridha Allah, maka ia adalah seorang mukmin yang benar, hatinya ikhlas.
Kemudian Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta'ala mengharamkan neraka kepada orang yang mengucapkan, “Laa Ilaaha Illallah,” hanya mengharapkan ridha Allah.” Setiap yang mengucapkannya hanya untuk mengharapkan ridha Allah, maka Allah Ta'ala mengharamkannya masuk neraka, kenapa demikian? Kerana orang yang mengatakannya untuk mencari ridha Allah tentu ia menunaikan semua tuntutan-tuntutan kalimat tersebut, menunaikan kewajipan, serta menjauhi larangan. Seseorang yang telah menunaikan kewajipan, menjauhi larangan, menghalalkan apa yang dihalalkan Allah dan mengharamkan apa yang diharamkan-Nya, melaksanakan kewajiban, meninggalkan larangan, maka orang ini termasuk penghuni surga, Allah Ta'ala mengharamkannya dari neraka.
Dalam hadits ini tidak terdapat dalil yang menunjukkan bahwa orang yang meninggalkan shalat tidak kufur. Kita mengetahui dengan jelas bahwa orang yang mengucapkan kalimat ini dengan mengharap ridha Allah tidak mungkin akan meninggalkan shalat, tidak mungkin! Orang yang mengatakan, “Aku mengucapkan, “Laa Ilaha Illallah dengan mengharap ridha Allah,” tetapi tidak shalat, maka orang itu adalah pendusta besar, kalau ia mengucapkannya benar mengharap ridha Allah niscaya tidak mungkin ia meninggalkan shalat yang merupakan rukun Islam setelah syahadat.
Dalam hadits ini terdapat beberapa faedah, di antaranya:
1. Barangsiapa yang kondisinya seperti Itban bin Malik, maka ia boleh meninggalkan shalat jamaah, walaupun harus shalat di rumah, misalnya terhalang dengan lembah atau sungai yang tidak bisa diseberangi.
2. Diperbolehkannya seseorang mengatakan, “Aku akan melaksanakan pada waktu yang akan datang,” apabila ia berkata, “Engkau akan datang besok,” katakan, “Aku akan datang” walaupun tanpa menyebutkan insya Allah. Apabila ada yang mengatakan, “Apa yang menghimpun antara ini dan firman Allah Ta'ala,
“Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, “Aku pasti melakukan itu besok pagi,” kecuali (dengan mengatakan), “Insya Allah.” (QS. Al-Kahfi: 18: 23-24)
Untuk sesuatu yang bersifat umum, baik berupa perbuatan kita atau Allah Ta'ala,
Jawabannya bahwa orang yang mengatakan, “Aku akan mengunjungimu” memiliki dua niat:
1). Ia memastikan datang, maka ia harus mengatakan insya Allah ia tidaklah mengatakannya, kecuali harus mengatakan insya Allah, kerana ia tidak tahu apakah ia akan datang besok atau tidak. Dan ia juga tidak tahu apakah jika mendatanginya besok ia mampu mendatanginya atau tidak. Ia juga tidak tahu apakah ada rintangan atau tidak jika ia bisa mendatanginya.
2). Ketika mengatakan, “Aku akan melakukannya” dengan niat kuat ingin datang, maka hal ini tidak apa-apa tanpa insya Allah, kerana ia mengatakan sesuatu yang bisa terjadi pada waktu yang akan datang, seperti halnya ketika ditanya, “Apakah kami akan pergi ke Mekah?” Jawabannya, “Ya, aku akan pergi ke Mekah.” Engkau memberitahukan tentang kepastian hatimu pada sesuatu yang akan datang, tetapi jika maksudnya adalah perbuatanmu maka jangan mengatakan, “Aku akan melaksanakannya” kecuali disertai dengan ucapan insya Allah.
3). Diperbolehkan untuk meninggalkan shalat jamaah jika ada halangan yang memberatkannya, seperti hujan lebat, banjir, atau yang lainnya. Sebagaimana ajaran Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bahwasannya Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam memerintahkan kepada muadzinnya pada malam hari ketika hujan lebat agar menyeru orang-orang untuk mendirikan shalat di tempat mereka masing-masing-masing, dengan tujuan agar tidak menyulitkan jamaah. Tetapi jika air hujan itu tidak sampai menimbulkan kesulitan, maka tidak seharusnya meninggalkan shalat berjamaah. Adapun tempat shalat yang ada di rumah itu tidak bisa dihukumi sebagai masjid. Apabila seseorang membuat tempat shalat khusus di rumahnya seperti kamar atau selainnya tidak bisa disebut masjid. Oleh karena itu, tidak ada ketetapan yang menyebutkannya sebagai masjid, diperbolehkan seorang yang junub untuk berada di sana, tidak disunnahkan shalat tahiyyatul masjid, tidak sah i'tikaf di dalamnya, walaupun seorang wanita yang memiliki mushala di rumahnya, ia tetap tidak sah i'tikaf di dalamnya
4). Di antara faedahnya juga, diperbolehkannya shalat sunnah berjamaah, tetapi tidak selamanya. Hanya untuk saat tertentu saja. Kerana Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam tatkala ditunjuki tempat shalatnya oleh Itban, Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam langsung maju dan shalat berjamaah dengan mereka dua raka'at. Tidak apa-apa seseorang shalat Rawatib atu Dhuha berjamaah jika hanya untuk saat tertentu.
Sebagaimana yang tersirat dalam hadits-hadits, bahwa Rasulallah shalallahu alaihi wa sallam pernah shalat malam bersama Ibnu Abbas, Ibnu Mas'ud, Hudzaifah radhiyallahu anhum tetapi tidak rutin. Maka shalat sunnah berjamaah yang dilakukan hanya kadang-kadang itu boleh.
5). Di antara faedahnya juga, seseorang diperbolehkan membuat mushalla di rumahnya untuk membiasakan shalat di rumah. Jangan dikatakan bahwa tempat ini seperti menjadikan tempat khusus di masjid untuk melaksanakan shalat. Seseorang dilarang untuk mengambil salah satu bagian dalam masjid yang dikhususkannya untuk shalat, seperti tidaklah ia shalat sunnah baik. Tahiyyat masjid atau selainnya, kecuali di tempat khusus itu. Kerana Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam melarang seseorang mengambil tempat khusus seperti halnya unta yang mengambil tempat khusus untuk tidur dan tinggal di sana.
6). Kita juga harus menjaga lisan agar tidak menuduh orang lain berbuat kufur, munafik, fasik, kecuali jika memang sangat diperlukan sekali dan ia memang harus menjelaskannya. Kerana Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda ketika seseorang mengatakan orang itu munafik, “Kamu jangan berkata seperti itu, apakah kamu tidak tahu bahwa ia mengucapkan, “Laa ilaaha illallah” dengan mengharap ridha Allah?” kerana setelah Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam meninggal tidak mungkin Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam memberikan rekomendasi bahwa seseorang itu hatinya ikhlas. Kita sekarang hanya bisa menghukumi secara zahir, siapa saja yang terlihat baik di mata kita, maka kita wajib menghukuminya baik, kita tidak boleh membicarakan keburukannya atau memakinya.
7). Di antara faedahnya, yaitu kecintaan para sahabat kepada Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam dan selalu bersama dengan Rasulullah, kerana setelah mereka mengetahui bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam berada di rumah Itban bin Malik, mereka buru-buru berangkat ke rumahnya dan berkumpul di sana untuk menuntut ilmu dan mendapatkan berkah ilmu dari Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam.
8). Sebagaimana yang kita sebutkan, hendaknya seseorang itu menunaikan sesuatu yang menjadi prioritas utamanya sebelum menunaikan yang lainnya. Sebagaimana Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam menunaikan shalat di tempat yang telah ditunjukkan sebelum duduk dan menikmati hidangan yang disediakan oleh Itban bin Malik.
9). Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam sangat tawadhu di hadapan para sahabatnya kerana setelah shalat Itban berkata, “Mohon ditunggu kerana sedang khazirah (makanan sederhana),” lalu menghidangkan untuk Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam. Hal ini menunjukkan betapa tawadhunya Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam.
10). Pelajaran yang terpenting dari hadits ini bahwa barangsiapa yang mengucapkan, “Laa Ilaha Illallah” hanya mengharap ridha Allah sungguh Allah akan mengharamkan dari api neraka. Sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, “Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka bagi orang yang mengucapkan, “laa Ilaaha Illallah” hanya mengharap ridha Allah.” Tentu orang yang mengucapkan kalimat ini mengharap ridha Allah akan menunaikan setiap yang mendekatkan dirinya kepada-Nya, baik yang berupa kewajiban maupun sunnah. Bukan seperti dalih orang-orang yang malas dan menyepelekan agama, mereka mengatakan, “Kita mengucapkan, “Laa Ilaha Illallah” ikhlas mengharap ridha Allah,” kita katakan, “Seandainya kalian mengucapkan ikhlas, pasti kalian tidak akan menyepelekan ibadah yang diwajibkan kepada kalian.”
Hadits no. 417.
وَعَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِسَبْي فَإِذَا امْرَأَةٌ مِنَ السَّبْي تَسْعَى، إِذْ وَجَدَتْ صَبِيًّا فِي السَّبْي أَخَذَتْهُ فَأَلْزَقَتْهُ بِبَطْنِهَا، فَأَرْضَعَتْهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: « أَتُرَوْنَ هَذِهِ الْمَرْأَةَ طَارِحَةً وَلَدَهَا فِي النَّارِ؟ قُلْنَا: لَا وَاللَّهِ. فَقَالَ: « للَّهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِولَدِهَا » مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.
Daripada Umar bin Khattab radhiyallahu anhu, dia berkata, “beberapa orang tawanan dihadapkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba ada seorang wanita dalam tawanan itu bingung mencari anaknya. Setiap ia melihat anak kecil dalam rombongan tawanan itu diangkatnya dan disusuinya. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apakah kamu berpendapat bahwa perempuan ini akan melemparkan anaknya ke dalam api?”
Kami menjawab, “Demi Allah, tidak.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah itu lebih sayang kepada hamba-Nya melebihi sayangnya perempuan ini kepada anaknya.”
[Shahih Al-Bukhari no. 5999 dan Muslim no. 2754]
Hadits no. 418.
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: « لَمَّا خَلَقَ اللَّهُ الْخَلْقَ، كَتَبَ فِي كِتَابٍ فَهُوَ عِنْدَهُ فَوْقَ الْعَرْشِ: إِنَّ رَحْمَتِي تَغْلِبُ غَضَبِي » وَفِي رِوَايَةٍ: « غَلَبَتْ غَضَبِي » وَفِي رِوَايَةٍ « سَبَقَتْ غَضَبِي » مُتَّفَقٌ عَلَيْهَ.
“Ketika Allah menciptakan makhluk, Dia menulis pada suatu kitab. Kitab itu berada di sisi-Nya di atas Arasy, “Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan murka-Ku.”
[Shahih Al-Bukhari no. 7404, 7553, 7554 dan Muslim no. 2751]
Dalam riwayat lain disebutkan, “Sesungguhnya rahmat-Ku mendahului kemurkaan-Ku.”
Hadits no. 419.
وَعَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يَقُولُ: جَعَلَ اللَّهُ الرَّحْمَةَ مِائَةَ جُزْءٍ، فَأَمْسَكَ عِنْدَهُ تِسْعَةً وتِسْعِينَ، وَأَنْزَلَ فِي الْاَْرْضِ جُزْءًا واحِدًا، فَمِنْ ذَلِكَ الجُزْءِ يَتَراحَمُ الْخَلائِقُ حَتَّى تَرْفَعَ الدَّابَّةُ حَافِرَهَا عَنْ وَلَدِهَا خَشْيَةَ أَنْ تُصِيبَهُ » . وَفِي رِوَايَةٍ: « إِنَّ للهِ تَعَالَى مِائَةَ رَحْمَةٍ أَنْزَلَ مِنْهَا رَحْمَةً وَاحِدَةً بَيْنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ وَالْبَهَائِمِ وَالهَوامِّ، فَبِهَا يَتَعَاطَفُونَ، وَبِهَا يَتَرَاحَمُونَ، وَبِهَا تَعْطِفُ الْوَحْشُ عَلَى وَلَدِهَا، وَأَخَّرَ اللَّهُ تَعَالَى تِسْعًا وَتِسْعِينَ رَحْمَةً يَرْحَمُ بِهَا عِبَادَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ » مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.
Daripada Abu Hurairah radhiyallahu anhu dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Allah Ta'ala menjadikan rahmat (kasih sayang) seratus bahagian, maka dipegang disisi-Nya sembilan puluh sembilan bahagian dan diturunkan satu bahagian ke bumi. Dari yang satu bahagian inilah seluruh makhluk berkasih sayang antara satu sama lain, sehingga seekor haiwan mengangkat kakinya kerana takut akan terpijak anaknya.”
Dalam riwayat lain dikatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya Allah Ta'ala mempunyai seratus rahmat dan Dia menurunkan satu di antara seratus rahmat itu untuk jin, manusia, binatang jinak dan binatang buas. Dengan satu rahmat itulah mereka saling menyayangi dan dengan satu rahmat itu pula binatang buas mempunyai rasa kasih sayang terhadap anaknya. Adapun rahmat yang sembilan puluh sembilan, Allah Ta'ala menyimpannya untuk diberikan pada Hari Kiamat, sebagai rasa sayang terhadap hamba-hamba-Nya.”
[Shahih Al-Bukhari no. 6000 dan Muslim no. 2752]
Imam Muslim meriwayatkan pula daripada Salman Al-Farisi radhiyallahu anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya Allah Ta'ala mempunyai seratus rahmat, salah satu di antaranya, rahmat yang menjadikan makhluk itu saling menyayangi. Dan yang sembilan puluh sembilan diberikan pada hari Kiamat.”
[Shahih Muslim no 2753]
Dalam riwayat lain dikatakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya Allah Ta'ala menciptakan seratus rahmat pada hari diciptakan langit dan bumi. Setiap rahmat mencakupi di antara di antara langit dan bumi. Lalu Allah Ta'ala berikan satu rahmat untuk bumi yang dengannya seseorang ibu menyayangi anaknya. Demikian juga binatang buas, burung-burung satu sama lain saling menyayangi. Apabila datang Hari Kiamat, maka Allah Ta'ala menyempurnakan rahmat tersebut.”
Hadits no. 420.
وَعَنْهُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فِيمَا يَحْكِى عَنْ رَبِّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، قَالَ: « أَذْنَبَ عَبْدٌ ذَنْبًا، فَقَالَ: اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي، فَقَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: أَذْنَبَ عَبْدِي ذَنْبًا، فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ ربًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ، ثُمَّ عَادَ فَأَذْنَبَ، فَقَالَ: أَيْ رَبِّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي، فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: أَذْنَبَ عَبْدِي ذَنْبًا، فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأَخُذُ بِالذَّنْبِ، ثُمَّ عَادَ فَأَذْنَبَ، فَقَالَ: أَيْ رَبِّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي، فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: أَذْنَبَ عَبْدِي ذَنْبًا، فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنبِ قَدَ غَفَرْتُ لِعَبْدِي فَلْيَفْعَلْ مَا شَاءَ ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.
“Ada seorang hamba yang telah berbuat dosa. Setelah itu, dia berdoa, “Ya Allah, ampunilah dosaku!” Kemudian Allah Ta'ala berfirman, “Sesungguhnya hamba-Ku mengaku telah berbuat dosa dan dia mengetahui bahwa dia mempunyai Tuhan yang dapat mengampuni dosa atau memberi seksa kerana dosa.”
Kemudian orang tersebut melakukan dosa lagi dan dia berdoa, “Ya Allah, ampunilah dosaku!” Maka Allah Ta'ala berfirman, “Hamba-Ku telah melakukan dosa, dan dia mengetahui bahwa dia mempunyai Tuhan yang mengampuni dosa atau menyeksa hamba-Nya kerana dosa. Sungguh, Aku memberi ampunan kepada hamba-Ku, sebab itu dipersilakan untuk dia perlakukan sesuai dengan yang dikehendakinya.”
[Shahih Al-Bukhari no. 7507 dan Muslim no. 7758]
Firman Allah (فَلْيَفْعَلْ مَا شَاءَ) maksudnya silakan untuk dia berbuat mengikut kehendak hatinya selama melakukan yang demikian itu iaitu melakukan dosa lalu segera bertaubat, maka Aku (Allah) mengampuninya, sebab sesungguhnya taubat dapat melenyapkan dosa-dosa yang lalu.”
Hadits no. 421.
وَعَنْهُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّه صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: « وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ لَمْ تُذنِبُوا لَذَهَبَ اللَّهُ بِكُمْ، وَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ، فَيَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ تَعَالَى، فَيَغْفِرُ لَهُمْ رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
Daripada Abu Hurairah radhiyallahu anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Demi zat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, seandainya kamu semua tidak berdosa, Allah pasti akan memusnahkan kamu semua dan mendatangkan kaum yang berdosa kemudian mereka memohon keampunan kepada Allah, maka Allah pun akan mengampuni dosa mereka.”
[Shahih Muslim no. 2749]
Hadits no. 422.
وَعَنْ أَبِي أَيُّوبَ خَالِدِ بْنِ زَيْدٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: « لَوْلاَ أَنَّكُمْ تُذْنِبُونَ، لَخَلَقَ اللَّهُ خَلْقًا يُذْنِبُونَ، فَيَسْتَغْفِرُونَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ » رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
“Seandainya kamu semua tidak melakukan dosa, Allah pasti menciptakan makhluk lain yang melakukan dosa. Kemudian mereka memohon keampunan, Allah mengampuni dosa mereka.”
[Shahih Muslim no. 2748]
Hadits no. 423.
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: كُنَّا قُعُودًا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، مَعَنَا أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهٌمَا فِي نَفَرٍ، فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ بَيْنِ أَظْهُرِنَا، فَأَبْطَأَ عَلَيْنَا، فَخَشِيْنَا أَنْ يُقْتَطَعَ دُونَنَا، فَفَزِعْنَا، فَقُمْنَا، فَكُنْتُ أَوَّلَ مَنْ فَزِعَ، فَخَرَجْتُ أَبْتَغِي رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، حَتَّى أَتَيْتُ حَائِطًا لِلأَنْصَارِ وَذَكَرَ الْحَدِيثَ بِطُولِهِ إِلَى قَوْلِهِ: فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: « اِذْهَبْ فَمَنْ لَقِيتَ وَرَاءَ هَذَا الْحَائِطِ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إلاَّ اللَّهُ، مُسْتَيقِنًا بِهَا قَلَبُهُ فَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ » رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
Daripada Abu Hurairah radhiyallahu anhu dia berkata, “Kami pernah duduk mengelilingi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah kumpulan, dan bersama Abu Bakar dan Umar. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beranjak pergi dari sekeliling kami dan terlambat untuk kembali hingga kami khuatir kalau Rasulullah tertangkap oleh musuh atau ditimpa musibah. Kami semua sangat risau, dan aku adalah orang yang pertama kali khuatir dengan keadaan Rasulullah. Maka aku pun berdiri dan keluar untuk mencari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga sampai pada sebuah kebun milik kaum Ansar dan Bani Najjar.” Seterusnya dia bercerita panjang lebar, menyampaikan ucapannya, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Pergilah, dan siapa pun yang kamu temui di sebalik kebun ini, dia bersaksi bahawa tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah dan dia mengukuhkan keyakinan ini dalam hatinya, maka berilah khabar gembira kepadanya dengan surga.”
[Shahih Muslim no. 31]
Hadits no. 424.
وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَلاَ قَوَلَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي إِبْرَاهِيمَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثيرًا مِنَ النَّاسِ فَمَن تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي} [ إبراهيم: ٣٦]، وَقَوْلَ عِيسَى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ} [ المائدة: ١١٨ ]، فَرَفَعَ يَدَيْهِ وَقَالَ « اَللَّهُمَّ أُمَّتِي أُمَّتِي » وَبَكَى، فَقَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: « يَا جِبْرِيلُ اذْهَبْ إِلَى مُحَمَّدٍ وَرَبُّكَ أَعْلَمُ، فَسَلْهُ مَا يُبكِيهِ؟ » فَأَتَاهُ جِبْرِيلُ فَأَخْبَرَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَا قَالَ: وَهُو أَعْلَمُ، فَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى: { يَا جِبْرِ يلُ اذْهَبْ إِلَى مُحَمَّدٍ فَقُلْ: إِنَّا سَنُرضِيكَ فِي أُمَّتِكَ وَلَا نَسُوؤُكَ } رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
(QS. Ibrahim: 14: 36) Dan juga tentang Nabi Isa 'alaihissalam, “Jika Engkau -ya Tuhan- menyeksa mereka, maka sesungguhnya mereka itu adalah hamba-hamba-Mu sendiri dan jikalau Engkau memberi pengampunan kepada mereka, maka sesungguhnya Engkau adalah Maha Mulia lagi Bijaksana.”
(QS. Al-Maidah: 5: 118)
Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya seraya berdoa, “Ya Allah, tolonglah umatku, tolonglah umatku,” dan Rasulullah terus menangis. Kemudian Allah Ta'ala berfirman, “Wahai Jibril, pergilah kepada Muhammad -dan Tuhanmu sebenarnya Maha Mengetahui, dan tanyakan kenapa dia menangis?” Kemudian Jibril mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahu apa yang telah diucapkannya, kemudian Allah Ta'ala berfirman, “Wahai Jibril, pergilah kepada Muhammad dan katakanlah, “Sesungguhnya Kami (Allah) akan memberikan keridhaan pada umatmu dan Kami tidak akan membuat keburukan padamu.”
[Shahih Muslim no. 202].
Penjelasan.
Hadits-hadits ini disebutkan oleh Imam An-Nawawi rahimullah dalam bab, “Mengharap karunia Allah Ta'ala.” Di antaranya bahwa Allah Ta'ala itu lebih mengasihi dan menyayangi hamba-Nya daripada seorang Ibu terhadap anaknya. Dalilnya adalah wanita tawanan yang melihat anak bayi, kemudian ia mengambilnya, mendekap dan menyusuinya. Lalu Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kamu berpendapat bahwa perempuan ini akan melemparkan anaknya ke dalam api?” Kami menjawab, “Demi Allah tidak,” Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda, “Allah itu lebih sayang kepada hamba-Nya melebihi sayangnya perempuan tersebut kepada anaknya.” Kerana kesempurnaan rahmat Allah Ta'ala.
Tanda-tanda hal itu banyak sekali, di antaranya adalah nikmat yang diperlihatkan kepada kita, nikmat yang terbesar adalah nikmat Islam, Allah telah menyesatkan mayoritas manusia dan menunjuki hamba-hamba-Nya yang beriman. Oleh kerana itu disebut sebagai nikmat yang terbesar.
Allah mengutus para rasul untuk memberi khabar gembira dan peringatan, agar tidak ada alasan bagi manusia setelah diutuskannya para rasul itu.
Kemudian Iman An-Nawawi menyebutkan hadits-hadits yang menerangkan bahwa rahmat Allah itu mendahului murka-Nya. Oleh kerana itu, Allah menawarkan kepada orang-orang yang telah berbuat dosa untuk memohon ampunan sehingga Allah mengampuninya, dan kalau berkehendak Dia pasti menghancurkan mereka dan tidak menginginkan taubat,
“Dan sekiranya Allah menghukum manusia disebabkan apa yang telah mereka perbuat, niscaya Dia tidak akan menyisakan satu pun makhluk bergerak yang bernyawa di bumi ini, tetapi Dia menangguhkan (hukuman)nya, sampai waktu yang sudah ditentukan.”
(QS. Fãthir: 35: 35)
Bersambung.....
Hadits no. 425.
وَعَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: كُنْتُ رِدْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى حِمَارٍ فَقَالَ: « يَا مُعَاذُ هَلْ تَدْرِي مَا حَقُّ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ؟ قُلْتُ: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: « فَإِنَّ حَقَّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ أَن يَعْبُدُوهُ، وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَحَقَّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ أَنْ لَا يُعَدِّبَ مَنْ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلاَ أُبَشِّرُ النَّاسَ؟ قَالَ: « لَا تُبَشِّرْهُم فَيَتَّكِلُوا » مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.
Daripada Muaz radhiyallahu anhu dia berkata, “Aku pernah membonceng di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas seekor keldai, lalu Rasulullah bertanya, “Wahai Muaz, tahukah kamu apa hak Allah atas hamba-hambaNya dan apa hak para hamba atas Allah?”
Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya hak Allah atas para hambaNya adalah hendaklah hamba itu beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, dan hak para hamba-Nya atas Allah adalah seorang hamba tidak akan diseksa selama dia tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.”
Lalu aku berkata, “Wahai Rasulullah, apakah boleh aku menyampaikan khabar gembira ini kepada manusia?”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan kamu memberitahu kepada mereka sebab nanti mereka akan berpasrah (menyerahkan nasib kepada Allah tanpa beramal) sahaja.”
[Shahih Al-Bukhari no. 2856 dan Muslim no. 30]
Hadits no. 426.
وَعَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: « اَلْمُسْلِمُ إِذَا سُئِلَ فِي الْقَبْرِ يَشهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ الله، فَذَلِكَ قَوٍلُهُ تَعَالَى: {يُثَبِّتُ اللهُ الَّذِينَ ءامَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَوٰةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ } [ إبراهيم: ٢٧ ] مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.
Daripada Al-Barra’ bin ‘Azib radhiyallahu anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang Muslim itu apabila ditanya dalam kubur, maka ia akan menyaksikan bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad adalah Utusan Allah. Yang sedemikian itu adalah sesuai dengan firmannya Allah Ta’ala -yang artinya, “Allah memberikan ketetapan -keteguhan- kepada orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh, baik di dalam kehidupan dunia ini, mahupun dalam akhirat.”
[Shahih Al-Bukhari no 4699 dan Muslim no. 2871]
Hadits no. 427.
وَعَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: « إِنَّ الْكَافِرَ إِذَا عَمِلَ حَسَنَةً، أُطْعِمَ بِهَا طُعْمَةً مِنَ الدُّنْيَا، وَأَمَّا الْمُؤمِنُ فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى يَدَّخِرُ لَهُ حَسَنَاتِهِ فِي الآخِرَةِ، وَيُعْقِبُهُ رِزْقًا فِي الدُّنْيَا عَلَى طَاعَتِهِ » . وَفِي رِوَايَةٍ: « إِنَّ اللهَ لَا يَظْلِمُ مُؤْمِنًا حَسَنَةً يُعْطَى بِهَا فِي الدُّنْيَا، وَيُجْزَى بِهَا فِي الآخِرَة، وَأَمَّا الْكَافِرُ فَيُطْعَمُ بِحَسَنَاتِ مَا عَمِلَ لِلّٰهِ تَعَالَى فِي الدُّنْيَا حَتَّى إِذَا أَفْضَى إِلَى الْآخِرَة، لَمْ يَكُنْ لَهُ حَسَنَةٌ يُجْزَى بِهَا » رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
“Sesungguhnya orang kafir itu apabila melakukan kebaikan, dia akan diberi balasan yang dia nikmati di dunia. Sedangkan orang Mukmin, sesungguhnya Allah menyimpan kebaikan-kebaikannya untuk di akhirat, dan dia dikurniakan rezeki di dunia kerana ketaatannya.”
Dalam riwayat lain dikatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya Allah tidak menganiaya kebaikan bagi orang Mukmin, dia diberi nikmat di dunia, kerana kebaikannya dan kebaikan itu masih dibalas lagi kelak di akhirat. Adapun orang kafir, dia mendapat nikmat di dunia, kerana kebaikan-kebaikan yang dia lakukan tidak kerana Allah. Sehingga apabila dia pulang ke akhirat, maka dia tidak akan memperoleh balasan apa-apa atas kebaikan yang dia kerjakan itu.”
[Shahih Muslim no. 2808]
Hadits no. 428.
وَعَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: « مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ كَمَثَلِ نَهَرٍ جَارٍ غَمْرٍ عَلَى بَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ » رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
“Perumpamaan shalat lima waktu, bagaikan seperti sungai yang mengalir secara melimpah ruah pada pintu rumah salah seorang diantara kamu semua. Dan dia mandi di situ setiap hari lima kali.”
[Shahih Muslim no. 668]
Hadits no. 429.
وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: « مَا مِنْ رَجُلٍ مُسلِمٍ يَمُوتُ فَيَقُومُ عَلَى جَنَازَتِهِ أَرَبَعُونَ رَجُلاً لَا يُشرِكُونَ بِاللهِ شَيْئًا إِلاَّ شَفَّعَهُمُ اللهُ فِيهِ » رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
“Seorang Muslim yang meninggal dunia, kemudian jenazahnya dishalatkan oleh empat puluh orang yang tidak mempersekutukan Allah, maka Allah menerima syafaat (doa) mereka terhadap orang yang meninggal dunia itu.”
[Shahih Muslim no. 948]
Hadits no. 430.
وَعَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي قُبَّةٍ نَحْوًا مِنْ أَرَبعِينَ، فَقَالَ: « أَتَرضَوٍنَ أَنْ تَكُونُوا رُبُعَ أَهْلِ الْجَنَّةِ؟ » قُلْنَا: نَعَم، قَالَ: « أَتَرضَونَ أَن تَكُونُوا ثُلُثَ أَهْلِ الْجَنَّةِ؟ » قُلْنَا: نَعَم، قَالَ: « وَالَّذِي نَفسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ إِنِّي لَأَرْجُو أَنْ تَكُونُوا نِصْفَ أَهْلِ الْجَنَّة، وَذَلِكَ أَنَّ الْجَنَّةَ لَا يَدْخُلُهَا إِلاَّ نَفْسٌ مُسلِمَةٌ، وَمَا أَنْتُمْ فِي أَهْلِ الشِّرْكِ إِلاَّ كََالشَّعَرَةِ الْبَيْضَاءِ فِي جِلْدِ الثَّوْرِ الْأَسْوَدِ، أَوْ كَالشَّعَرَةِ السَّوْدَاءِ فِي جِلْدِ الثَّوْرِ الْأَحْمَرِ » مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.
Daripada Ibnu Mas'ud radhiyallahu anhu dia berkata, “Kami bersama-sama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam sebuah khemah yang di dalamnya ada empat puluh orang, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Adakah kamu semua suka, seandainya kamu semua merupakan satu perempat penghuni surga?”
Kami menjawab, “Ya suka.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi, “Adakah kamu semua suka, jika kamu semua merupakan satu pertiga penghuni surga?”
Kami menjawab, “Ya Suka.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Zat yang jiwa Muhammad berada dalam genggaman-Nya, aku berharap semoga kamu semua merupakan setengah daripada penghuni syurga, kerana itu hanya akan dimasuki oleh orang islam. Perbandingan kamu semua di antara orang yang musyrik tidak lain hanyalah seperti rambut putih pada kulit lembu hitam atau seperti sehelai rambut hitam pada kulit lembu merah.”
[Shahih Al-Bukhari no. 6528, 6642 dan Muslim no. 221]
Hadits no. 431.
وَعَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشعَرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: « إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ دَفَعَ اللهُ إِلَى كُلِّ مُسْلِمٍ يَهُودِيًّا أَوْ نَصْرَانِيّآً فَيَقُولُ: هَذَا فِكَاكُكَ مِنَ النَّارِ ». وَفِي رَوَايَةُ عَنْهُ عَنِ النَّبيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: « يَجِيءُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ نَاسٌ مِنَ المُسْلِمِينَ بِذُنُوبٍ أَمْثَالِ الْجِبَالِ يَغفِرُهَا اللَّهُ لَهُمُ » رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
Daripada Abu Musa radhiyallahu anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Pada hari Kiamat kelak, Allah akan menyerahkan seorang Yahudi atau Nasrani kepada setiap orang muslim. Kemudian Allah Ta'ala berfirman, “Inilah gantimu daripada seksa api neraka.”
Dalam riwayat lain, disebutkan dari Abu Musa radhiyallahu anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Pada hari kiamat datanglah beberapa orang dari kaum Muslimin dengan membawa dosa sebesar gunung-gunung, lalu diampunkanlah oleh Allah untuk mereka itu.”
[Shahih Muslim no. 2767]
Hadits no. 432.
وَعَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: « يُدْنَى الْمُؤْمِنُ يَومَ الْقِيَامَةِ مِنُ رَبِّهِ حَتَّى يَضَعَ كَنَفَهُ عَلَيهِ، فَيُقَرِّرَهُ بِذُنُوبِهِ، فَيَقُولُ: أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ فَيَقُولُ: رَبِّ أَعْرِفُ، قَالَ: فَإِنِّي قَدْ سَتَرتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا، وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَومَ، فَيُعْطَى صَحِيفَةَ حَسَنَاتِهِ » مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.
“Pada hari Kiamat orang Mukmin akan dihadapkan kepada Allah dengan sangat dekat sekali sehingga Dia menutup dan merahmati orang Mukmin tersebut. Setelah itu, Allah membuatnya mengakui dosa-dosanya.”
Dia bertanya, “Adakah kamu tahu dosamu?”
Orang Mukmin itu menjawab, “Ya Tuhanku, aku tahu dosaku.”
Allah Ta'ala berfirman, “Sesungguhnya dosa-dosa itu telah Kututupi untukmu di dunia dan pada hari ini Kuampuni semuanya itu bagimu, kemudian diberikanlah catatan amalan kebaikannya.”
[Shahih Al-Bukhari no 2441, 4685]
Hadits no. 433.
وَعَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلاً أَصَابَ مِنَ امْرَأَةٍ قُبْلَةً، فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرَهُ، فَأَنَزَلَ اللَّهُ تَعَالَى: { وَأَقِمِ الصَّلَوٰةَ طَرَفِي النَّهَارِ وَزُلَفًا مِّنَ الَّليْلِ إِنَّ الْحَسَنَـٰتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ } [ هود: ١١٤ ] فَقَالَ الرَّجُلُ: أَلِي هَذَا يَا رَسُولَ الله؟ قَالَ: « لِجَمِيعِ أُمَّتِي كُلهِمْ » مَتَّفقٌ عَلَيْهِ.
(QS. Hud: 11: 114)
Kemudian orang itu lalu bertanya, “Apakah ayat itu untukku saja, ya Rasulullah?”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Untuk semua umatku.”
[Shahih Al-Bukhari no. 526 dan Muslim no. 2763]
Hadits no. 434.
وَعَنْ أَنْسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَصَبْتُ حَدًّا، فَأَقِمْهُ عَلَيَّ، وَحَضَرتِ الصَّلاَةُ فَصَلَّى مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا قَضَى الصَّلاَة قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ إِنِّي أَصَبْتُ حَدًّا، فَأَقِمْ فِيَّ كِتَابَ اللهِ، قَالَ: « هَلْ حَضَرْتَ مَعَنَا الصَّلاَةَ ؟ » قَالَ: نَعَمْ: قَالَ « قَدْ غُفِرَ لَكَ » مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.
Daripada Anas radhiyallahu anhu dia berkata, “bahwa ada seseorang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, aku telah melakukan sesuatu yang harus dikenakan hukuman, maka laksanakanlah hukuman itu kepadaku.”
Kemudian tibalah waktu shalat, maka dia shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah selesai, dia berkata lagi, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah melakukan sesuatu yang harus dikenakan hukuman, maka laksanakanlah hukuman itu kepadaku, sesuai dengan ketentuan Allah.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Bukankah kamu tadi shalat bersama kami?”
Dia menjawab, “Ya.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dosamu telah diampuni.”
[Shahih Al-Bukhari no. 6823 dan Muslim no. 2764]
Hadits no. 435.
وَعَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: « إِنَّ اللهَ لَيَرْضَي عَنِ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الْأَكْلَةَ، فَيَحْمَدُهُ عَلَيْهَا، أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا » رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
“Sesungguhnya Allah sangat redha kepada orang yang apabila dia makan dia memuji kepada-Nya, atau apabila dia minum memuji kepada-Nya.”
[Shahih Muslim no. 2734]
Hadits no. 436.
وَعَنْ أَبِي مُوْسَى رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: « إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى بَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لَيَتُوبَ مُسِيِءُ النَّهَارِ وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسيءُ اللَّيْلِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبَها » رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
“Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya pada waktu malam untuk menerima taubat orang yang berdosa pada waktu siang, dan Dia membentangkan tangan-Nya pada waktu siang untuk menerima taubat orang yang melakukan dosa pada waktu malam, sehingga matahari terbit dari barat (hari Kiamat).”
[Shahih Muslim no. 2759]
Hadits no. 437.
وَعَنْ أَبِي نَجِيحٍ عَمْرِو بْنِ عَبْسَةَ بِفَتْحِ الْعَيْنِ وَالْبَاءِ السُّلَمِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: كُنْتُ وَأَنَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ أَظُنُّ أَنَّ النَّاسَ عَلَى ضَلاَلَةٍ، وَأَنَّهُمْ لَيْسُوا عَلَى شَيْءٍ، وَهُمْ يَعْبُدُونَ الْأَوْثَانَ، فَسَمِعْتُ بِرَجُلٍ بِمَكَّةَ يُخْبِرُ أَخْبَارًا، فَقَعَدْتُ عَلَى رَاحِلَتي، فَقَدِمْتُ عَلَيْهِ، فَإِذَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُسْتَخْفِيًا جُرَآءُ عَلَيْهِ قَوْمُهُ، فَتَلَطَّفْتُ حَتَّى دَخَلْتُ عَلَيْهِ بِمَكَّة، فَقُلْتُ لَهُ: مَا أَنَتَ ؟ قَالَ: « أَنَا نَبِيٌّ » قُلْتُ: وَمَا نَبِيٌّ؟ قَالَ: « أَرْسَلَنِيَ اللهُ » قُلْتُ: وَبِأَيِّ شَيْءٍ أَرْسَلَكَ؟ قَالَ: « أَرْسَلَنِي بِصِلَةِ الْأَرْحَامِ، وَكَسْرِ الْأَوْثَانِ، وَأَنْ يُوَحَّدَ اللهُ لَا يُشْرَكُ بِهِ شَيْء » قَلْتُ: فَمَنْ مَعَكَ عَلَى هَذَا؟ قَالَ: « حُرٌّ وَعَبْدٌ » وَمَعَهُ يَوْمَئِذٍ أَبَو بَكْرٍ وَبِلاَلٌ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا. قَلْتُ: إِنِّي مُتَّبعُكَ، قَالَ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ ذَلِكَ يَوْمَكَ هَذَا. أَلاَ تَرَى حَالِى وَحَالَ النَّاسِ؟ وَلَكِنِ ارْجِعْ إِلَى أَهْلِكَ فَإِذَا سَمِعْتَ بِي قَدْ ظَهَرْتُ فَأْتِنِي » قَالَ فَذَهَبْتُ إِلَى أَهْلِي، وَقَدِمَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ. وَكُنْتُ فِي أَهْلِي. فَجَعَلْتُ أَتَخَبَّرُ الْ أَخْبَارَ، وَأَسْأَلُ النَّاسَ حِينَ قَدِمَ الْمَدِينَةَ حَتَّى قَدِمَ نَفَرٌ مِنْ أَهْلِي الْمَدِينَةَ، فَقُلْتُ: مَا فَعَلَ هَذَا الرَّجُلُ الَّذِي قَدِمَ الْمَدِينَةَ؟ فَقَالُوا: اَلنَّاسُ إِلَيْهِ سِرَاعٌ وَقَدْ أَرَادَ قَوْمُهُ قَتْلَهُ، فَلَمْ يَسْتْطِيِعُوا ذَلِكَ، فَقَدِمْتُ الْمَدِينَةَ فَدَخَلْتُ عَلَيْهِ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ أَتَعْرِفُنِي؟ قَالَ: « نَعَمْ أَنْتَ الَّذِي لَقِيتَنِي بِمَكَّةَ » قَالَ: فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ أَخْبِرْنِي عَمَّا عَلَّمَكَ اللهُ وَأَجْهَلُهُ، أَخْبِرْنِي عَنِ الصَّلاَةِ؟ قَالَ: « صَلِّ صَلاَةَ الصُّبْحِ، ثُمَّ اقْصُرْ عَنِ الصَّلاَةِ حَتَّى تَرْتَفِعِ الشَّمْسُ قِيدَ رُمْحٍ، فَإِنَّهَا تَطْلُعُ حِينَ تَطْلُعُ بَيْنَ قَرْنَيْ شَيْطَانٍ، وَحِينَئِذٍ يَسْجُدُ لَهَا الْكُفَّارُ، ثُمَّ صَلِّ، فَإِنَّ الصَّلَاةَ مَشْهُودَةٌ مَحْضُوْرَةٌ حَتَّى يَسْتَقِلَّ الظِّلُّ بِالرُّمْحِ، ثُمَّ اقْصُرْ عَنِ الصَّلاَةِ، فَإِنَّهُ حِينَئذٍ تُسْجَرُ جَهَنَّمُ، فَإِذَا أَقْبَلَ الْفَيْءُ فَصَلِّ، فَإِنَّ الصَّلاَةَ مَشْهُودَةٌ مَحْضُورَةٌ حَتَّى تُصَلِّيَ الْعَصْرَ ثُمَّ اقْصُرْ عَنِ الصلاَةِ حَتَّى تَغْرُبَ الشَّمْسُ، فَإِنَّهَا تَغْرُبُ بَيْنَ قَرْنَيْ شَيْطَانٍ، وَحِينَئذٍ يَسْجُدُ لَهَا الْكُفَّارُ ». قَالَ: فَقُلْتْ: يَا نَبِيَّ اللهِ، فَالْوُضُوءُ حَدّثْنِي عَنْهُ؟ فَقَالَ: « مَا مِنْكُمْ رَجُلٌ يُقَرِّبُ وَضُوءَهُ، فَيَتَمَضْمَضُ وَيَسْتَنْشِقُ فَيَنْتَثِرُ، إِلاَّ خَرَّتْ خَطَايَا وَجْهِهِ وَفِيهِ وَخَيَاشِيمِهِ. ثُمَّ إِذَا غَسَلَ وَجْهَهُ كَمَا أَمَرَهُ اللهُ إِلاَّ خَرَّتْ خَطَايَا وَجْهِهِ مِنْ أَطْرَافِ لِحْيَتِهِ مَعَ الْمَاءِ. ثُمَّ يَغْسِلُ يَدَيْهِ إِلَى الْمِرْفَقَينِ إِلاَّ خَرَّتْ خَطَايَا يَدَيْهِ مِنْ أَنَامِلِهِ مَعَ الْمَاءِ، ثُمَّ يَمْسَحُ رَأْسَهُ، إِلاَّ خَرَّتْ خَطَايَا رَأْسِهِ مِنْ أَطْرَافِ شَعْرهِ مَعَ الْمَاءِ، ثُمَّ يَغْسِلْ قَدَمَيهِ إِلَى الْكَعْبَيْنِ، إلاَّ خَرَّتْ خَطَايَا رِجْلَيْه مِنْ أَنَامِلِهِ مَعَ الْمَاءِ، فَإِنْ هُوَ قَامَ فَصَلَّى، فَحَمِدِ اللهَ تَعَالَى وَأَثْنَى عَلَيْهِ وَمَجَّدَهُ بِالَّذِي هُوَ لَهُ أَهْلٌ، وَفَرَّغَ قَلْبَهُ للَّهِ تَعَالَى إِلاَ انْصَرَفَ مِنْ خَطِيئَتِهِ كَهَيْئَتِهِ يَومَ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ » فَحَدّثَ عَمْرُو بْنُ عَبَسَةَ بِهَذَا الْحَدِيثِ أَبَا أُمَامَةَ صَاحِبَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَهُ أبُو أمَامَةَ: يَا عَمْروُ بْنُ عَبْسَةَ، اُنْظُرْ مَا تَقُولُ. فِي مَقَامٍ وَاحِدٍ يُعْطَى هَذَا الرَّجُلُ؟ فَقَالَ عَمْرٌو: يَا أَبَا أُمَامَةَ لَقَدْ كِبرَتْ سِنِّي، وَرَقَّ عَظمِي، وَاقْتَرَبَ أَجَلِي، َومَا بِي حَاجَةٌ أَنْ أَكْذِبَ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى، وَلَا عَلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ لَمْ أَسْمَعْهُ مِنْ رَسُولِ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلاَّ مَرَّةً أَوْ مَرْتَيْنِ أَوْ ثَلاَثًا، حَتَّى عَدَّ سَبْعَ مَرَاتٍ، مَا حَدَّثْتُ أَبدًا بِهِ، وَلَكِنِّي سَمِعتُهُ أَكثَرَ مِنْ ذَلِكَ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ .
Daripada Abu Najih Amr bin Abbash As-Sulami radhiyallahu anhu dia berkata, “Pada zaman dulu, aku menduga bahwa semua manusia itu berada dalam kesesatan, mereka tidak berada dalam kebenaran sedikit pun, dan mereka menyembah berhala. Kemudian aku mendengar bahwa di Mekah ada seseorang yang menyampaikan khabar-khabar, maka aku segera berangkat kesana dengan menaiki kenderaan. Pada masa itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih berdakwah secara sembunyi dan dianiaya oleh kaumnya. Aku berasa hiba. Sampai di Mekah dan berjumpa dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, aku bertanya, “Siapakah engkau?”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Aku adalah seorang Nabi.”
Aku bertanya, “Siapakah Nabi itu?”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Allah mengutusku.”
Aku bertanya, “Untuk apa Allah mengutusmu?”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Allah mmengutusku untuk menyambung silaturahim (tali persaudaraan) menghancurkan berhala dan mengesakan Allah dan Allah tidak boleh dipersekutukan dengan sesuatu pun.”
Aku bertanya, “Siapakah yang telah mengikuti kamu di dalam ajaran seperti ini?”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Orang yang merdeka dan hamba sahaya.”
Pada waktu itu orang yang telah mengikuti, diantaranya adalah Abu Bakar, Bilal radhiyallahu anhu. Aku berkata, “Sesungguhnya aku akan mengikutimu.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Sesungguhnya sekarang kamu belum mampu mengikuti ajaran ini. Bukankah kamu tahu keadaanku dan keadaan orang-orang di sekelilingku, tetapi kembalilah kepada keluargamu, nanti apabila kamu mendengar aku telah mendapat kemenangan, maka datanglah kembali kepadaku.”
Amr berkata, “Maka aku kembali kepada keluargaku. Ketika Rasulullah berhijrah ke Madinah, aku masih tetap mencari-cari khabar daripada keluargaku, sehingga datanglah sekelompok penduduk Madinah, dan aku bertanya, “Bagaimana berita seseorang yang baru datang ke Madinah itu?”
Mereka menjawab, “Orang-orang Madinah menyambut kedatangannya, sedangkan kaumnya bertujuan untuk membunuhnya, tetapi mereka tidak mampu.”
Kemudian aku pergi ke Madinah dan menemui Rasulullah dan bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah engkau masih mengenaliku?”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ya, kamu adalah orang yang pernah menemuiku di Mekah.”
Amr berkata, “Wahai Rasulullah, beritahulah padaku tentang apa saja yang diajar Allah kepada kamu, dan aku belum nengetahuinya. Beritahulah kepadaku tentang shalat.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Shalatlah kamu shalat Subuh, kemudian berhentilah sehingga matahari terbit setinggi tombak, kerana ketika matahari itu terbit seolah-olah ia terbit di antara dua tanduk syaitan dan pada saat itu orang-orang kafir sujud kepada matahari. Kemudian shalatlah mengikut kehendak hatimu (shalat sunat) kerana sesungguhnya shalat itu disaksikan dan dihadiri malaikat, sehingga matahari itu hampir tergelincir iaitu sebelum tergelincir kira-kira sepanjang tombak. Pada saat itu janganlah shalat kerana neraka Jahanam sedang dinyalakan. Apabila matahari telah tergelincir, shalatlah lagi, kerana shalat itu disaksikan dan dihadiri oleh malaikat sehingga kamu mengerjakan shalat Asar. Lalu berhentilah dari shalat sehingga matahari terbenam kerana waktu matahari terbenam itu seolah-olah ia terbenam di antara kedua tanduk syaitan, dan pada waktu itu pula orang kafir sujud kepada matahari.”
Amr berkata, “Wahai Nabi Allah, beritahu aku tentang wuduk.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah salah seorang dari kamu semua yang menyempurnakan wuduk, lalu dia berkumur-kumur dan beristinsyaq (menghirup air ke dalam hidung lalu menghembukannya) kecuali dosa-dosa wajahnya, bibirnya dan hidungnya akan berjatuhan bersama air basuhan wuduk itu. Kemudian, apabila dia membasuh wajahnya sebagaimana yang di perintahkan Allah, niscaya dosa-dosa wajahnya akan berjatuhan bersama-sama air dari hujung-hujung janggutnya. Dan tidaklah dia membasuh kedua tanganya hingga pergelangan siku kecuali dosa-dosa kedua tangannya akan berjatuhan bersama air dari jari-jemarinya. Dan tidaklah dia membasuh kepalanya kecuali dosa-dosa kepalanya akan berjatuhan bersama air dari hujung rambutnya. Dan tidaklah dia membasuh kedua kakinya hingga buku lali kecuali dosa-dosa kedua kakinya juga berjatuhan bersama air dari jari-jari kakinya. Dan apabila dia mendirikan shalat lalu memuji Allah serta menyanjung-Nya dan juga memujinya dengan sesuatu yang memang Dia-lah yang berhak atasnya lalu menumpahkan hatinya semata-mata hanya tertuju untuk Allah, niscaya dia akan terlepas diri daripada dosa-dosanya sebagaimana hari dia dilahirkan oleh ibunya.”
Kemudian Amr bin Abasah menceritakan hadits ini kepada Abu Umamah, salah seorang sahabat Rasulullah, lantas Abu Umamah menegurnya, “Wahai Amr, perhatikanlah apa yang kamu ucapkan. Apakah mungkin seseorang itu diberikan keampunan sebesar itu hanya dengan mengerjakan serangkai amalan sahaja?”
Amr menjawab, “Wahai Abu Umamah, usiaku sudah lanjut, tulangku sudah rapuh dan ajalku hampi tiba, maka buat apa aku berdusta atas nama Allah dan Rasul-Nya. Seandainya aku hanya mendengar satu kali, dua kali, tiga kali, empat kali, lima kali, enam kali dan tujuh kali sahaja dari Rasulullah, aku pasti tidak akan menceritakan hal itu selama-lamanya, tetapi aku mendengarnya lebih daripada itu.”
[Shahih Muslim no. 832]
Hadits no. 438.
وَعَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: « إِذَا أَرَادَ اللهُ تَعَالَى رَحْمَةَ أُمَّةٍ، قَبَضَ نَبِيَّهَا قَبْلَهَا، فَجَعَلَهُ لَهَا فَرَطًا وَسَلَفًا بَيْنَ يَدَيْهَا، وَإذَا أُرَادَ هَلَكةَ أُمَّةٍ، عَذَّبَهَا وَنَبِيُّهَا حَيُّ، فَأَهْلَكَهَا وَهُوَ يَنْظُرُ فَأَقَرَّ عَيْنَهُ بِهَلاَكِهَا حِينَ كَذَّبُوهُ وَعَصَوْا أَمْرَهُ » رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
“Apabila Allah hendak memberikan rahmat kepada sesuatu umat, maka Dia mewafatkan nabinya terlebih dahulu sebelum umat itu, maka jadilah nabi itu sebagai perintis dan pendahulu bagi umat itu. Dan apabila Allah hendak membinasakan suatu umat, diseksa-Nya umat itu, sedangkan nabinya masih hidup. Lalu umat itu binasa disaksikan nabinya dengan mata kepalanya, ketika mereka mendustakan dan mengingkari perintahnya.”
[Shahih Muslim no. 2288]
Tiada ulasan:
Catat Ulasan